Sejarah drone bermula dari eksperimen militer abad ke-19 dan berkembang menjadi teknologi otonom modern di berbagai sektor sipil.
Drone adalah wahana terbang tanpa awak manusia di dalam kokpit yang dikendalikan melalui remote control jarak jauh atau program komputer terencana.
Perkembangan teknologi ini membawa perubahan besar pada cara kerja pemetaan, dokumentasi visual, hingga pemantauan industri.
Masyarakat kini dapat memanfaatkan pesawat nirawak secara legal untuk keperluan hobi maupun pekerjaan profesional.
Drone adalah pesawat udara tanpa awak manusia di dalamnya yang beroperasi menggunakan kendali jarak jauh atau sistem navigasi otomatis.
Secara teknis, perangkat ini memiliki nama resmi yang berbeda pada beberapa otoritas penerbangan internasional.
Federal Aviation Administration (FAA) mendefinisikan drone sebagai bagian dari sistem yang disebut UAS (Unmanned Aircraft System). Sistem ini mencakup tiga unsur utama:
Berdasarkan fungsinya, drone modern hadir dalam berbagai ukuran.
Ukuran kecil dimanfaatkan untuk videografi, ukuran sedang dipakai untuk pemetaan menggunakan drone, dan ukuran besar digunakan untuk kebutuhan pertahanan atau kargo.
Saya juga menuliskan pengertian dan jenis jenis penyebutan ini dalam buku saya ynag berjudul Drone.
Kata drone berasal dari istilah bahasa Inggris untuk lebah jantan dan suara dengungan baling-baling pesawat.
Penamaan ini bermula pada tahun 1935 saat Angkatan Laut Kerajaan Inggris mengembangkan pesawat target tembak bernama de Havilland DH.82B Queen Bee.
Para perwira militer Inggris menyebut pesawat latihan radio kontrol tersebut sebagai drone untuk menghormati nama Queen Bee.
Bunyi motor pesawat tanpa awak pada era tersebut juga menyerupai dengung kawanan lebah. Sebutan tersebut kemudian bertahan puluhan tahun dan dipakai oleh masyarakat global sampai hari ini.
Berbagai otoritas penerbangan dan militer memakai istilah teknis berbeda untuk mengklasifikasikan pesawat nirawak.
Masing-masing istilah memiliki cakupan definisi tersendiri sesuai regulasi hukum yang berlaku.
Tabel berikut merangkum perbedaan istilah resmi drone:
Di Indonesia, istilah hukum yang wajib dipakai untuk pengajuan izin terbang sipil adalah SPUKTA.
Aturan tersebut tertuang di dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 63 Tahun 2021.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa juga merilis kata derun sebagai padanan bahasa Indonesia, walaupun kata drone masih paling banyak digunakan publik.
Pembahasan detail tentang definisi hukum istilah di atas dapat dibaca pada artikel istilah resmi untuk drone.
Sejarah drone terbentuk melalui rangkaian eksperimen panjang selama lebih dari satu abad. Perjalanan teknologi ini melibatkan inovasi radio, aerodinamika, dan otomasi industri pertahanan.
Berikut adalah tahapan penting perkembangan drone dunia:
Serangan balon berpeledak oleh tentara Austria pada pengepungan Venesia tahun 1849 tercatat sebagai konsep awal serangan udara tanpa awak.
Pasukan Austria menerbangkan sekitar 200 balon berisi bahan peledak dari atas kapal perang.
Rencana penyerangan menemui kegagalan saat arah angin berbalik menuju garis pertahanan Austria.
Peristiwa tersebut menjadi inspirasi pertama manusia untuk meluncurkan misi tempur tanpa melibatkan awak di udara.
Nikola Tesla memperkenalkan kapal kendali radio jarak jauh bernama teleautomaton di Madison Square Garden New York pada tahun 1898.
Kapal tersebut bergerak mengikuti perintah sinyal radio tanpa kabel penghubung fisik.
Penemuan Tesla membuktikan bahwa transmisi gelombang radio sanggup mengarahkan benda mekanis secara presisi dari kejauhan.
Konsep kendali radio ini menjadi fondasi utama seluruh teknologi remote control drone modern.
Pada masa Perang Dunia I, ilmuwan Inggris Archibald Low memimpin perancangan pesawat radio kontrol bernama Aerial Target. Pesawat kecil ini dirancang untuk mencegat dan menabrak balon Zeppelin Jerman di udara.
Proyek tersebut mengalami beberapa kali kendala teknis saat uji coba terbang. Proyek Aerial Target resmi meletakkan dasar riset monoplane nirawak berpemandu gelombang radio.
Charles Kettering bersama Orville Wright merancang bom terbang otomatis bernama Kettering Bug pada tahun 1918. Wahana biplan ini terbang menuju koordinat target menggunakan giroskop dan alat penghitung putaran mesin.
Sayap Kettering Bug terlepas otomatis setelah menempuh jarak tertentu sehingga badan pesawat jatuh meledak ke sasaran. Uji terbang berjalan sukses, tetapi Perang Dunia I berakhir sebelum pesawat ini dikirim ke medan pertempuran.
Militer Inggris memproduksi pesawat target tembak radio kontrol bernama DH.82B Queen Bee pada tahun 1935. Pesawat ini dapat lepas landas, bermanuver di udara, dan mendarat kembali di landasan untuk digunakan berulang kali.
Penerapan sistem pakai ulang ini menekan biaya latihan prajurit artileri pertahanan udara. Sebutan lebah jantan atau drone untuk pesawat pendamping Queen Bee menjadi cikal bakal istilah drone internasional.
Amerika Serikat memproduksi massal drone target tembak pertama bernama Radioplane OQ-2 sebanyak lebih dari 15.000 unit selama Perang Dunia II. Proyek ini diprakarsai oleh Reginald Denny, seorang pemeran film yang gemar merakit pesawat model radio kontrol.
Pabrik perakitan Radioplane di California memperkerjakan buruh wanita muda bernama Norma Jeane Dougherty.
Potret kerja Norma Jeane oleh fotografer militer menjadi awal kariernya sebagai aktris Marilyn Monroe.
Amerika Serikat mengembangkan pesawat nirawak jet pengintai bernama Ryan Model 147 Lightning Bug pada era Perang Dingin.
Drone jet ini diterbangkan dari bawah sayap pesawat induk C-130 Hercules untuk mengumpulkan foto intelijen di wilayah konflik Asia.
Lightning Bug menjalankan ribuan operasi rahasia tanpa risiko kematian pilot militer. Era ini membuktikan keunggulan wahana nirawak untuk tugas pengintaian berisiko tinggi.
Militer Amerika Serikat memasang rudal AGM-114 Hellfire pada badan drone pengintai RQ-1 Predator pada tahun 2001. Perubahan fungsi ini menghasilkan varian MQ-1 Predator sebagai armada serang jarak jauh berpanduan satelit.
Operator mengendalikan penerbangan dan penembakan sasaran dari pangkalan di daratan Amerika Serikat menuju zona tempur di benua lain.
Penerapan taktik tersebut mengubah doktrin operasi militer udara global secara permanen.
Perusahaan teknologi DJI meluncurkan lini produk Phantom pada awal dekade 2010-an.
Drone quadcopter ini dilengkapi sensor GPS stabil, gimbal kamera halus, dan kemudahan pengendalian melalui perangkat telepon pintar.
Produk ini memperluas penggunaan drone ke kalangan fotografer, pembuat konten, dan peneliti lingkungan.
Masyarakat umum mendapatkan akses mudah untuk menerbangkan kamera ke udara tanpa pelatihan militer rumit.
Tahun 2013, Ketika saya baru bergabung dengan SAMPAN Kalimantan, dan bertemu dengan Angga, saya mengalami sendiri bagaimana sulitnya membangun sendiri drone.
Dulu kami membangun drone menggunakan stereofoam, yang di potong sendiri, lalu diisi dengan flight controller seperti pixhawk atau APM.
Tantangan terberatnya adalah melakukan tuning, karena flight controller ini open source, jadi banyak paramater ynag harus kami set sendiri, dengan cara trial and error.
Lalu datanglah DJI dengan segala kemudahannya, menghadirkan drone yang bisa langsung di terbangkan.
Drone masa kini telah terintegrasi dengan sensor canggih, navigasi satelit multi-band, dan algoritma kecerdasan buatan. Wahana udara mampu melakukan misi inspeksi infrastruktur, pemetaan batas wilayah, dan penyemprotan pupuk pertanian secara otomatis.
Kemampuan sistem drone modern mencakup beberapa fitur berikut:
[PENGALAMAN: Ceritakan contoh pemanfaatan drone otonom atau pemrosesan AI yang pernah Anda terapkan langsung di proyek lapangan.]
Sejarah drone membuktikan lompatan teknologi dari sekadar alat latihan militer menjadi perangkat produktif yang multifungsi. Pemahaman mengenai sejarah, terminologi resmi, dan aturan terbang membantu remote pilot mengoperasikan pesawat nirawak secara profesional dan patuh hukum.