Sistem pertahanan antidrone Inggris saat ini dinilai rapuh menghadapi ancaman serangan drone murah pada sasaran infrastruktur domestik. Pemerintah Inggris memang telah menggelontorkan anggaran baru untuk menutup defisit sektor pertahanan senilai 4,7 miliar poundsterling. Kebijakan belanja militer tersebut dinilai para pengamat masih mengabaikan perlindungan wilayah sipil dari teror drone rakitan berbiaya rendah.
Kondisi ruang udara nasional Inggris menyimpan risiko keamanan nyata bagi keselamatan publik. Pendiri UK-Ukraine TechExchange, Andriy Dovbenko, menyampaikan kritik terbuka terhadap arah kebijakan belanja pertahanan London. Pengadaan alat perang strategis bernilai mahal tidak dapat menjawab kebutuhan mitigasi serangan udara jarak dekat di ruang publik padat penduduk.
Sistem pertahanan antidrone Inggris memiliki titik buta karena fokus pertahanan masih berorientasi pada ancaman perang konvensional jarak jauh di luar negeri. Perencana pertahanan memprioritaskan penimbunan rudal pencegat serta pencegahan ancaman antarnegara. Fasilitas domestik seperti gardu induk listrik, kilang minyak, dan stadion sepak bola justru belum dilengkapi sistem proteksi udara aktif.
Kelemahan paling berbahaya terletak pada lambatnya kesiapan merespons taktik asimetris. Pelaku teror kini dapat memanfaatkan teknologi drone komersial yang dimodifikasi secara mandiri. Biaya produksi pesawat nirawak rakitan sangat murah bila dibandingkan dengan sistem penangkis udara militer.
Pembelian perangkat keras militer canggih tidak akan menyelesaikan masalah tanpa kesiapan di tingkat lapangan. Ketika peralatan deteksi canggih dipasang di pangkalan militer luar negeri, langit kota-kota besar di Inggris tetap dibiarkan tanpa pemantauan aktif frekuensi drone komersial. Kondisi ini menciptakan ilusi keamanan publik yang rapuh.
Skenario serangan di Stadion Wembley melibatkan penerbangan simultan puluhan drone FPV berkecepatan tinggi yang membawa bahan peledak improvisasi menuju kerumunan penonton. Serangan kelompok terkoordinasi ini memanfaatkan celah minimnya sensor pendeteksi ketinggian rendah di area perkotaan. Waktu reaksi petugas pengamanan lapangan menjadi sangat sempit begitu drone terdeteksi secara visual.
Dovbenko menggambarkan simulasi serangan terkoordinasi oleh dua puluh unit drone FPV yang dapat dibeli bebas di pasar komersial. Kawanan drone berbobot ringan mampu bermanuver lincah melewati celah atap stadion dalam hitungan detik. Kecepatan jelajah drone modern mempersulit upaya penembakan manual oleh personel kepolisian.
Kejadian tersebut menuntut respon penindakan cepat sebelum pesawat nirawak mendekati sasaran. Tanpa radar berdaya pindai cepat, petugas keamanan baru menyadari bahaya saat suara baling-baling terdengar. Kecepatan terbang drone FPV membuat jarak beberapa ratus meter terlewati dalam tempo kurang dari sepuluh detik.
Kendala hukum utama kepolisian adalah ketiadaan wewenang delegasi untuk memancarkan sinyal pengacau frekuensi atau menembak jatuh objek di area pemukiman padat. Polisi sipil terikat batasan ketat undang-undang telekomunikasi dan penerbangan sipil yang melarang gangguan spektrum radio liar. Akibatnya, otoritas berwenang kerap ragu mengambil keputusan penindakan saat ancaman sudah berada di depan mata.
Regulasi penerbangan Inggris saat ini membagi tanggung jawab keamanan udara secara terpisah antara kepolisian sipil dan Kementerian Pertahanan. Polisi memiliki kewenangan penegakan hukum di darat, namun tidak dibekali protokol intersepsi udara mandiri. Militer memegang peralatan pertahanan udara canggih, namun dilarang bertindak di wilayah hukum domestik tanpa perintah darurat khusus kabinet.
Perbedaan utama kedua ancaman terletak pada platform wahana, kecepatan manuver, tanda frekuensi kendali, serta jalur pendekatan sasaran. Pertahanan udara konvensional dirancang menghadapi target berkecepatan tinggi pada lintasan terprediksi, bukan drone mini yang terbang rendah di antara gedung.
Tabel berikut merangkum perbedaan karakter kedua jenis ancaman udara tersebut:
Pengeluaran belanja senjata bernilai triliunan rupiah sering kali sia-sia jika hanya dibelanjakan untuk rudal penangkis kelas berat. Pelaku teror dapat mengelabui radar bernilai jutaan poundsterling menggunakan drone hobi seharga beberapa juta rupiah. Penataan sistem pertahanan harus menyasar ruang kosong antara operasi kepolisian dan taktik pertahanan udara konvensional.
Langkah perlindungan ruang udara kota memerlukan integrasi sensor pendeteksi pasif, protokol verifikasi otomatis, serta rantai komando penindakan taktis yang cepat. Membeli peralatan pencegat secara terpisah tanpa jaringan komunikasi terpadu hanya menghamburkan anggaran negara.
Berikut tahapan pembangunan sistem pertahanan antidrone perkotaan:
Pengalaman lapangan di Ukraina membuktikan bahwa pertahanan udara modern bergantung pada kecepatan verifikasi data dan fleksibilitas tindakan unit pertahanan bawah. Perang Ukraina menunjukkan kelemahan radar konvensional saat berhadapan dengan gelombang serangan drone murahan. Pertahanan udara terbukti runtuh saat amunisi pencegat mahal habis digunakan untuk menembak jatuh sasaran murah.
Ukraina membentuk kelompok pemburu drone bergerak yang mengandalkan sensor akustik sederhana dan jaringan transmisi data terdesentralisasi. Petugas di lapangan diberikan hak penuh untuk langsung menembak objek terbang tak teridentifikasi tanpa menunggu keputusan komando pusat. Pendekatan desentralisasi wewenang tersebut menjadi kunci keselamatan infrastruktur energi Ukraina dari kepungan drone kamikaze.
Inggris justru memiliki sistem birokrasi pertahanan kaku yang memusatkan keputusan pada tingkatan kementerian. Pembagian informasi antara badan intelijen, kepolisian wilayah, dan komando pertahanan udara nasional masih terhambat aturan kerahasiaan dokumen. Pembelajaran taktik dari Ukraina seharusnya mendorong perombakan pola pikir para penentu kebijakan di London.
Solusi utama mengatasi kesenjangan koordinasi adalah membentuk badan pengelola ruang udara terpadu yang memadukan wewenang kepolisian, penerbangan sipil, dan militer. Lembaga ini bertugas mengawasi lalu lintas udara rendah sekaligus memiliki otoritas penindakan ancaman asimetris. Tanpa integrasi komando, kepolisian kota akan terus berjalan sendiri menghadapi ancaman berstandar militer.
Keterlibatan sektor industri teknologi swasta juga mutlak diperlukan untuk mempercepat riset sistem penangkal otomatis. Pemerintah perlu membuka ruang uji coba sistem pelumpuh drone berbasis kecerdasan buatan pada fasilitas infrastruktur kritis. Kesiapan regulasi dan pembaruan arsitektur deteksi menjadi kunci mutlak agar anggaran miliaran poundsterling menghasilkan perlindungan nyata bagi masyarakat luas.