
DRNLogbook entry
Drone dan Perang Modern
Drone militer adalah sistem pesawat tanpa awak yang digunakan untuk misi militer seperti pengintaian, pengawasan, dan serangan presisi.
Departures

DRNLogbook entry
Drone militer adalah sistem pesawat tanpa awak yang digunakan untuk misi militer seperti pengintaian, pengawasan, dan serangan presisi.
Perang tidak lagi sama seperti yang kita bayangkan dari film-film lama. Tidak ada lagi barisan tank yang bergerak megah di padang terbuka. Tidak ada lagi formasi pesawat tempur yang menderu di langit dengan gagahnya. Yang ada sekarang adalah bunyi dengung kecil, nyaris tidak terdengar, sebelum ledakan menghancurkan target yang bahkan tidak sempat menyadari kehadiran musuh.
Selamat datang di era perang drone.
Ryan Gury, CEO Performance Drone Works, menyebutnya sebagai perubahan paling signifikan dalam doktrin militer sejak senjata nuklir. Dan jika melihat apa yang terjadi di medan perang Ukraina selama tiga tahun terakhir, pernyataan itu sama sekali tidak berlebihan.
Untuk memahami bagaimana kita sampai di titik ini, kita perlu kembali ke tahun 1970-an di Israel.
Abraham Karem, seorang insinyur penerbangan kelahiran Irak yang dibesarkan di Israel, mendapat tugas dari angkatan udara untuk merancang pesawat tanpa awak pengecoh radar. Tidak ada yang menyangka bahwa eksperimen sederhana itu akan melahirkan revolusi. Pada 1980, Karem pindah ke California dan mulai mengembangkan konsepnya lebih jauh. Hasilnya adalah Predator, drone yang mengubah segalanya.
Awalnya Predator hanya bertugas mengintai. Terbang tinggi, diam-diam, merekam pergerakan musuh tanpa risiko kehilangan pilot. Tapi pada 2002, seseorang punya ide untuk memasang rudal Hellfire di bawah sayapnya. RQ-1 Predator berubah menjadi MQ-1 Predator, dan dunia tidak pernah sama lagi.
Pembunuhan pertama oleh drone Amerika terjadi pada 7 Oktober 2001 di Kandahar, Afghanistan. Sejak itu, drone menjadi senjata andalan dalam Perang Melawan Teror. Dari Afghanistan ke Irak, dari Pakistan ke Yaman, drone Predator dan kemudian penggantinya yang lebih besar dan lebih mematikan, MQ-9 Reaper, menjadi malaikat maut yang tak terlihat.
Israel dan Amerika Serikat mendominasi industri ini. Pada periode 1990 hingga 2017, Israel sendiri menguasai 60 persen dari seluruh ekspor drone militer di dunia. Negara itu juga memiliki skuadron drone pertama dan tertua di dunia, dibentuk pada 1971 dan masih aktif hingga hari ini.
Tapi drone besar seperti Predator dan Reaper butuh infrastruktur mahal. Butuh landasan pacu, teknisi terlatih, dan sistem komunikasi satelit yang kompleks. Harganya mencapai puluhan juta dolar per unit. Hanya negara-negara kaya yang mampu memilikinya.
Sampai Ukraina mengubah permainan.
Ketika Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022, tidak banyak yang mengira negara yang jauh lebih kecil itu bisa bertahan. Tapi Ukraina punya senjata rahasia yang mengejutkan semua orang: drone FPV seharga beberapa ratus dolar.
FPV adalah singkatan dari First Person View. Ini adalah drone kecil yang awalnya populer di kalangan hobi dan racing. Pilot mengenakan kacamata khusus yang menampilkan pandangan langsung dari kamera drone, seolah-olah mereka duduk di kokpit. Kecepatan dan kelincahannya luar biasa.
Ukraina mengambil teknologi hobi ini dan mengubahnya menjadi senjata. Pasang bahan peledak di badan drone, terbangkan menuju tank musuh, dan boom. Tank seharga jutaan dolar hancur oleh drone seharga beberapa ratus dolar.
Angkanya mencengangkan. Pada 2023, Kementerian Pertahanan Ukraina membeli drone FPV dalam jumlah ribuan. Pada 2024, jumlahnya melonjak menjadi 1,5 juta unit. Pada 2025, mereka menganggarkan pembelian 4,5 juta drone dengan dana lebih dari 2,6 miliar dolar. Setiap bulan, 200.000 drone dikirim ke pasukan di garis depan, naik dari 20.000 per bulan di tahun sebelumnya.
Di sisi Rusia, eskalasi tidak kalah dramatis. Pada Maret 2024, mereka meluncurkan sekitar 250 drone FPV per hari. Sekarang angkanya mencapai 1.000 hingga 1.200 per hari. Pada Agustus 2024, mereka mencatat rekor 30.000 FPV dalam satu bulan.
Dan ini bukan sekadar angka di atas kertas. Menurut militer Ukraina, senjata tak berawak kini menyebabkan sekitar 70 persen dari semua korban di kedua belah pihak. Lebih banyak dari semua senjata lain digabungkan.
Drone telah menjadi amunisi. Sekali pakai, bisa dibuang, dan sepenuhnya fokus pada satu tujuan: menghancurkan target tertentu di waktu tertentu.
Tidak semua drone diciptakan sama. Ada yang besar dan mahal seperti Reaper. Ada yang kecil dan murah seperti FPV. Dan ada kategori khusus yang disebut loitering munition, atau lebih dikenal dengan nama yang lebih dramatis: drone kamikaze.
Konsepnya sederhana. Drone ini diluncurkan ke udara dan berkeliaran di area tertentu, mencari target. Begitu target ditemukan, drone menukik dan meledak. Tidak ada kembali ke pangkalan. Tidak ada mendarat dengan selamat. Misi selesai berarti drone hancur.
Rusia punya Lancet, dikembangkan oleh ZALA Aero Group yang merupakan bagian dari Kalashnikov Concern. Sejak diperkenalkan, lebih dari 2.000 Lancet telah digunakan di Ukraina. Dari 1.163 serangan yang tercatat hingga Februari 2024, sekitar 31 persen target hancur total dan 53 persen mengalami kerusakan signifikan. Hampir setengah serangannya mengincar instalasi artileri.
Yang menarik, Lancet-3 dilengkapi modul Jetson buatan NVIDIA, perusahaan Amerika, yang memberinya kemampuan AI untuk mencari dan melacak objek secara otonom. Pemeriksaan Ukraina terhadap Lancet yang tidak meledak menemukan bahwa sekitar 80 persen komponennya berasal dari Tiongkok.
Iran tidak mau ketinggalan. Mereka memasok Rusia dengan Shahed-136, drone kamikaze jarak jauh yang dijuluki Geran-2 oleh militer Rusia. Hingga Februari 2024, Rusia telah meluncurkan 4.637 Shahed ke Ukraina. Sementara Shahed digunakan untuk menyerang infrastruktur energi, Lancet berperan sebagai pemburu presisi di medan tempur.
Kini Rusia bahkan membangun pabrik sendiri untuk memproduksi Shahed versi lokal, terletak di Yelabuga, Tatarstan, sekitar 800 kilometer di timur Moskow.
Perang adalah ibu dari segala inovasi, dan perang drone tidak terkecuali.
Kedua belah pihak di Ukraina kini mengembangkan drone yang dikontrol melalui kabel serat optik. Kenapa? Karena drone FPV konvensional menggunakan gelombang radio yang bisa di-jam. Dengan kabel serat optik, sinyal tidak bisa diganggu. Jangkauannya sudah mencapai 40 kilometer, dan kedua pihak berlomba untuk memperpanjangnya hingga lebih dari 50 kilometer.
Ukraina bahkan menguji drone induk yang bisa membawa dan menyebarkan beberapa drone FPV sekaligus. Bayangkan sebuah drone besar yang terbang ke area target, lalu melepaskan enam drone FPV bersenjata yang menyerang secara bersamaan dari berbagai arah. Sistem ini sudah diuji di medan tempur pada Januari 2025.
Di sisi pertahanan, jaringan anti-drone mulai bermunculan. Rusia pertama kali memperkenalkannya, dan Ukraina segera mengikuti. Jaring-jaring ini membentuk semacam terowongan yang panjangnya bermil-mil, melindungi konvoi kendaraan dari serangan drone.
Rusia juga mengembangkan sistem anti-drone portabel bernama Groza.04.K. Produksi massal sudah dimulai dan gelombang pertama telah dikirim ke medan perang.
Tapi inovasi paling menakutkan mungkin adalah swarm drone, kawanan drone yang beroperasi secara terkoordinasi seperti lebah. Tiongkok sudah memamerkan kemampuan ini di Zhuhai Airshow 2024, menampilkan Jiutian SS-UAV yang bisa membawa dan menyebarkan puluhan drone kecil sekaligus. Angkatan Laut Tiongkok bahkan sudah membangun kapal induk drone bernama Type 076.
Sebelum Ukraina menjadi laboratorium perang drone terbesar di dunia, ada konflik lain yang seharusnya menjadi peringatan bagi semua negara.
Pada September 2020, Azerbaijan melancarkan serangan kilat terhadap wilayah Nagorno-Karabakh yang dikuasai Armenia. Perang ini hanya berlangsung 44 hari, tapi hasilnya mengejutkan dunia. Azerbaijan, dengan dukungan drone buatan Turki dan Israel, berhasil merebut kembali wilayah yang hilang selama hampir tiga dekade.
Bayraktar TB2 buatan Turki menjadi bintang utama. Drone ini menghancurkan tank, sistem pertahanan udara, dan posisi artileri Armenia dengan presisi yang menakutkan. Video-video serangan drone tersebar luas di media sosial, menunjukkan betapa tak berdayanya pasukan konvensional menghadapi ancaman dari udara.
Azerbaijan juga menggunakan taktik cerdik: menerbangkan pesawat An-2 tua yang dimodifikasi menjadi drone umpan untuk memancing tembakan sistem pertahanan udara Armenia. Begitu posisi pertahanan terungkap, drone-drone yang lebih canggih langsung menyerang.
Lebih dari 6.500 orang tewas dalam konflik singkat ini. Dan pelajarannya jelas: drone murah yang digunakan dengan cerdas bisa mengalahkan pertahanan konvensional yang jauh lebih mahal.
Dengan semua kemajuan teknologi ini, muncul pertanyaan yang tidak nyaman: siapa yang bertanggung jawab ketika mesin mengambil keputusan untuk membunuh?
Beberapa drone modern sudah dilengkapi AI yang bisa mengidentifikasi, melacak, dan menyerang target tanpa campur tangan manusia. Sebuah laporan PBB mencatat bahwa drone Kargu-2 buatan Turki dalam mode otonom penuh menyerang pejuang di Libya pada 2020, menandai awal era baru dalam peperangan.
Human Rights Watch mendesak pelarangan total terhadap senjata otonom yang bisa membuat keputusan mematikan sendiri. Tapi realitanya, banyak negara justru berlomba mengembangkan teknologi ini. Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Israel, Iran, Korea Selatan, Turki, India, dan Inggris semuanya berinvestasi besar dalam senjata otonom.
Swarm drone militer saat ini memiliki tiga level otonomi. Yang pertama adalah human in the loop, di mana manusia memegang kendali penuh. Yang kedua adalah human on the loop, di mana manusia hanya mengawasi. Dan yang ketiga adalah human out of the loop, di mana tidak ada peran manusia sama sekali. Para pakar mendesak agar setidaknya sistem human in the loop dipertahankan, dengan tombol darurat untuk mematikan senjata kapan saja.
Pertemuan Convention on Certain Conventional Weapons yang membahas larangan robot pembunuh berakhir tanpa hasil setelah Amerika Serikat dan Rusia menolak desakan 125 negara untuk pelarangan.
Ada kekhawatiran nyata bahwa drone membuat perang terlalu mudah. Ketika risiko bagi prajurit manusia berkurang, ambang untuk memulai konflik juga turun. Perang bisa menjadi lebih sering dan lebih luas.
Pasar drone militer global bernilai 15,23 miliar dolar pada 2024 dan diproyeksikan mencapai 22,81 miliar dolar pada 2030. Pertumbuhan ini didorong oleh kemajuan dalam avionik, teknologi sensor, sistem komunikasi, dan terutama kecerdasan buatan.
Yang jelas, perang di masa depan tidak akan mirip dengan perang di masa lalu. Para pakar yang mengamati konflik Ukraina sepakat bahwa inilah gambaran medan tempur yang akan datang: dipenuhi mesin-mesin kecil yang terbang, mengintai, dan menyerang dengan presisi yang tidak bisa dicapai manusia.
Ukraina sendiri sudah membuktikan bahwa drone murah bisa menjadi penyama kekuatan. Operasi Spider Web pada Juni 2024 menggunakan 117 drone FPV murah yang diselundupkan ke Rusia dan diluncurkan dari truk. Targetnya adalah empat lapangan udara Rusia. Kerusakan yang dihasilkan mencapai sekitar 7 miliar dolar. Drone yang masing-masing bernilai beberapa ratus dolar berhasil menghancurkan aset bernilai miliaran.
Ini adalah pesan yang tidak bisa diabaikan oleh siapa pun yang memikirkan keamanan dan pertahanan: era baru sudah dimulai, dan mereka yang tidak beradaptasi akan tertinggal.
Drone bukan lagi mainan. Bukan lagi alat hobi. Bukan lagi sekadar kamera terbang untuk foto dan video.
Di tangan yang salah, drone adalah senjata. Di medan perang, drone adalah pembunuh. Dan di masa depan, drone mungkin akan menjadi penentu siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Langit tidak lagi damai seperti dulu. Dan mesin-mesin kecil itu sudah mengubah segalanya.
Sumber:
You must be logged in to comment
No comments yet. Be the first to comment!

Written by
Liu PurnomoI'm a Software Engineer who turns coffee into code, and sometimes I even make interactive web things that work! ☕💻 I'm also a certified multitasker: an Expert Drone Pilot (ask me for aerial selfies!), a Certified Instructor/Public Speaker (I talk a lot), and a Seasonal Runner who believes in running only when the weather is perfect. Let's connect!
More articles headed the same way as this one.







