HomeBlogEventsProjectsAboutContact

Menu

Table of Contents

Tulisan Terbaru

Buku Drone yang bahas dari Sisi Teknologi hingga Regulasi

Drone

Review Buku DRONE Karya Liu Purnomo

Drone

UU No. 21 Tahun 2025: Indonesia Resmi Atur Pengelolaan Ruang Udara

Drone

Rahasia Lulus Ujian CBT Remote Pilot Certificate (RPC) di Percobaan Pertama: Review Lengkap Bank Soal Ujian Terlengkap di Indonesia

Drone

Mengapa Sertifikasi adalah Tiket Masuk Karir Anda?

Drone
Low-Altitude Economy dari Wuhan, Mengapa Sulit Masuk Indonesia

EDTLogbook entry

Low-Altitude Economy dari Wuhan, Mengapa Sulit Masuk Indonesia

Sepulang dari konferensi teknologi di Wuhan, saya menilai low-altitude economy di Indonesia masih terhalang regulasi, ruang udara, dan izin yang berlapis.

Liu Purnomo
Oleh Liu PurnomoDi tulis tanggal 7 Oktober 2026
Editorial
0 views0 comments

Sponsored

Sponsored

Liu PurnomoLiu PurnomoBlog

Jelajahi

  • Beranda
  • Blog
  • Tutorial
  • Events
  • Projects
  • Buku

Tentang

  • Tentang Saya
  • Kerja Sama
  • Kontak
  • Bio Links
  • Traktir Author

Others

  • Changelog
  • Systems
  • Sitemap
  • Kalkulator GSD
  • QR Code Generator

Ikuti Saya

  • Github
  • LinkedIn
  • Instagram
  • YouTube
  • X

Hak Cipta © 2026 Liu Purnomo. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Kebijakan PrivasiKetentuan Penggunaan
0
0

Akhir Juli 2026, saya menghadiri konferensi di Wuhan sambil mendengarkan para pembicara membahas low-altitude economy seolah-olah itu sudah menjadi sektor industri yang berjalan, bukan lagi wacana.

Ada kebijakan, ada standar, ada produsen, dan yang paling penting, ada pembeli. Sambil mendengar, sambil membayangkan kondisi Indonesia, tempat untuk menerbangkan satu drone pemetaan di satu lokasi saja kita masih harus mengurus koordinasi berlapis.

Konferensi di Wuhan, pembahasan utama nya adalah tentang Low-Altitude Economy
Konferensi di Wuhan, pembahasan utama nya adalah tentang Low-Altitude Economy

Saya hadir di 2026 Hubei International Technology Exchange Conference, dan salah satu topik besarnya adalah ekonomi ketinggian rendah.

Sponsored

Tulisan ini murni analisis dan opini pribadi saya sebagai remote pilot dan instruktur, bukan laporan resmi acara.

Saya tidak akan berpura-pura mencatat semua detail presentasi.

Hanya sebuah kesan lapangan dan perbandingan yang tidak bisa saya hindari.

“
Penghalangnya ada di regulasi, tata kelola ruang udara, dan cara kita memandang drone selama ini
”

Jujur saja, ekosistem seperti yang digambarkan di Tiongkok tidak akan masuk ke Indonesia dalam waktu dekat, dan penyebab utamanya bukan teknologi.

Penghalangnya ada di regulasi, tata kelola ruang udara, dan cara kita memandang drone selama ini.

Apa sebenarnya yang dibicarakan di Wuhan

Low-altitude economy merujuk pada seluruh aktivitas ekonomi yang memanfaatkan ruang udara rendah, umumnya di bawah sekitar 1.000 meter.

Isinya sangat beragam. Ada drone logistik untuk pengiriman barang, eVTOL untuk angkutan penumpang jarak pendek, inspeksi jaringan listrik, penyemprotan lahan pertanian, pemadaman dan penyelamatan, sampai wisata udara. 

“
Dokter dan ambulance terbang yang dibahas oleh Prabowo adalah salah satu contoh Low-Altitude Economy
”

Tiongkok memperlakukan ini sebagai industri strategis. Sejak istilah itu masuk ke laporan kerja pemerintah pusat pada 2024, pemerintah daerah berlomba menyiapkan zona uji, insentif, dan infrastruktur.

Di Wuhan, suasananya terasa seperti itu. Orang tidak lagi bertanya apakah ini akan jadi industri, mereka bertanya siapa yang paling cepat menguasai rantai pasoknya.

Buat saya, perbedaan terbesar bukan pada gadget yang dipamerkan.

Drone dan eVTOL bisa dibeli atau ditiru oleh siapa saja.

Yang tidak bisa dibeli adalah kesiapan sistem di sekelilingnya, yaitu aturan yang jelas, ruang udara yang dibuka secara terencana, dan satu arah kebijakan yang diikuti banyak instansi sekaligus.

Resep Tiongkok yang sulit disalin begitu saja

Ada tiga hal yang menurut saya membuat Tiongkok melaju.

Pertama, rantai pasok manufakturnya lengkap, dari motor, baterai, flight controller, sensor, sampai LiDAR. Pemain seperti DJI lahir dari ekosistem ini, dan biaya produksi yang rendah membuat eksperimen komersial menjadi murah.

Kalau satu model bisnis gagal, ongkos belajarnya tidak akan membunuh perusahaan.

Kedua, otoritas penerbangan sipil di sana bergerak maju di sisi sertifikasi pesawat jenis baru.

EHang EH216-S, misalnya, sudah melewati proses sertifikasi dari CAAC. Terlepas dari pro dan kontra soal keamanannya, ada jalur resmi yang bisa dilalui produsen dari prototipe sampai izin operasi komersial.

Jalur seperti inilah yang membuat investor berani menaruh uang.

Drone E-VTOL
Drone E-VTOL

Ketiga, negara bersedia membuka ruang udara secara bertahap dan terkelola.

Pembahasan eVTOL penumpang yang dulu terdengar futuristik, seperti yang pernah saya tulis di artikel drone taxi dan urban air mobility di Indonesia, di sana sudah masuk ke tahap rute dan stasiun lepas landas.

Saya tidak bilang semuanya mulus, tetapi arah dan tanggung jawabnya jelas.

Saya sengaja menyebut tiga hal itu karena Indonesia hanya punya sebagian saja.

Kita punya pasar dan punya pilot yang makin terlatih, tetapi dua faktor lain, yaitu rantai pasok dan keberanian membuka ruang udara, belum sejalan.

Benturan pertama, ruang udara kita belum dirancang untuk lalu lintas rendah

Di Indonesia, ruang udara adalah wilayah kedaulatan dan pertahanan yang sangat sensitif. Pengesahan UU No. 21 Tahun 2025 tentang pengelolaan ruang udara menegaskan hal itu.

Saya melihatnya sebagai langkah penting untuk kepastian hukum, tetapi nadanya lebih ke pengendalian dan penegakan daripada pemanfaatan ekonomi. Untuk ekonomi ketinggian rendah, itu bukan nada yang paling ideal.

Di lapangan, pilot yang bekerja di dekat bandara, instalasi vital, atau kawasan militer sudah akrab dengan ritme izinnya.

Kita harus paham no fly zone drone, rajin memeriksa NOTAM seperti dibahas di panduan cara membaca NOTAM kegiatan UAV, dan sering harus berkoordinasi dengan banyak pihak untuk satu misi.

Saya ketika menjelaskan tentang regulasi drone di Indonesia dalam salah satu pelatihan drone
Saya ketika menjelaskan tentang regulasi drone di Indonesia dalam salah satu pelatihan drone

Itu untuk satu drone, dengan satu pilot, di satu titik. Bayangkan ratusan drone pengantar barang melintas di atas kota yang sama setiap jam.

Konsep yang paling relevan untuk menjembatani ini adalah flexible use airspace, yaitu ruang udara yang dialokasikan fleksibel antara kepentingan sipil dan militer sesuai waktu dan kebutuhan.

Tanpa mekanisme semacam itu yang benar-benar berjalan, low-altitude economy akan tersandung di pintu pertama, sebab tidak ada koridor yang bisa dipakai secara rutin dan dapat diprediksi.

Izin berlapis yang dirasakan operator setiap hari

Saya ingin turun dari level kebijakan ke meja kerja pilot. Satu operasi komersial yang wajar di Indonesia sudah melibatkan banyak pintu.

Berikut beberapa yang paling sering saya temui.

  • Pesawat harus terdaftar dan operatornya harus berizin melalui jalur DKPPU, termasuk pencatatan lewat SIDOPIGO.
  • Pilot idealnya memegang Remote Pilot Certificate dan mengikuti ketentuan CASR Part 107 untuk operasi pesawat udara tanpa awak.
  • Penggunaan frekuensi radio harus sesuai dengan aturan spektrum dari kementerian yang berwenang.
  • Lokasi di dekat bandara atau kawasan terbatas menuntut koordinasi tambahan dengan pengelola dan otoritas terkait. Termasuk SC dan SO dari Kementerian Pertahanan
  • Pengambilan data udara untuk pemetaan sering menyentuh isu keamanan data geospasial dan kepentingan pertahanan.
Alur Izin Terbang drone di Indonesia
Alur Izin Terbang drone di Indonesia

Setiap butir di atas masuk akal kalau dilihat sendiri-sendiri.

Masalahnya muncul ketika semuanya harus dilalui satu per satu untuk kegiatan yang nilainya kecil.

Operasi di luar jangkauan pandang mata atau BVLOS, yang menjadi fondasi pengiriman barang otomatis, pada praktiknya masih diperlakukan sebagai pengecualian yang butuh persetujuan khusus, bukan sebagai kategori operasi yang punya jalur standar, butuh SORA.

Di China, Regulator berusaha merancang jalur agar bisnis bisa lahir. Di sini, jalur yang ada lebih banyak dirancang untuk memastikan tidak ada yang terlewat.

Kedua sikap itu bisa dimengerti, tetapi hasil ekonominya sangat berbeda. Saya sudah merangkum landasan aturan dasarnya di panduan regulasi dan aturan drone di Indonesia bagi yang ingin membaca akar persoalannya.

Manusia yang belum siap

Kalaupun regulasi tiba-tiba longgar besok pagi, ekonomi ketinggian rendah tidak otomatis berjalan.

Drone kargo butuh titik lepas landas dan pendaratan yang aman, sistem manajemen lalu lintas udara tanpa awak atau UTM, jaringan komunikasi yang andal, serta suplai daya untuk pengisian baterai dalam jumlah besar.

Untuk eVTOL penumpang, kebutuhannya lebih berat lagi, mulai dari vertiport sampai prosedur tanggap darurat. Kita masih jauh dari semua itu, dan drone kargo pun lebih banyak hidup sebagai uji coba terbatas.

Lalu soal sumber daya manusia. Standar kompetensi sudah diatur dalam CASR 107, dan jumlah pilot bersertifikat terus bertambah, tetapi industri ini membutuhkan lebih dari pilot.

Salah satu teknologi drone di Tionkok
Salah satu teknologi drone di Tionkok

Kita perlu teknisi perawatan, perencana rute, analis data, petugas manajemen risiko, sampai auditor keselamatan.

Peran-peran itu belum punya jalur pendidikan yang rapi di sini. Pilot yang tahu airmanship dan pengambilan keputusan adalah modal awal.

Ada satu hal yang sering luput dibahas, yaitu pasar.

Di kota-kota besar Tiongkok, kepadatan penduduk dan kebiasaan belanja digital membuat pengiriman udara punya hitungan bisnis yang masuk akal. Di Indonesia, kemacetan Jakarta memang menggoda, tetapi biaya kurir motor yang murah adalah pesaing berat. Drone harus menang di tempat yang tepat.

Peluang yang menurut saya realistis dikerjakan sekarang

Saya tidak ingin tulisan ini terbaca pesimis total.

Justru karena pintunya sempit, kita perlu cerdas memilih pintu mana yang dibuka lebih dulu.

Menurut saya, peluang paling nyata ada di sektor yang kebutuhannya sudah jelas dan risikonya terkelola, yaitu pemetaan dan survei, pemantauan hutan dan lahan, inspeksi infrastruktur, penanganan bencana, serta logistik ke wilayah terpencil dan kepulauan di mana alternatifnya memang mahal atau lambat.

Geografi kita sebenarnya keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara.

Pengiriman obat atau sampel laboratorium antarpulau dengan drone punya argumen yang jauh lebih kuat daripada pengiriman makanan di perkotaan.

Saya lebih percaya model bisnis seperti ini akan menjadi pembuka jalan, karena regulator lebih mudah melihat manfaat publiknya.

Prabowo Berbicara Tentang Ambulan Terbang
YouTube
Prabowo Berbicara Tentang Ambulan Terbang
YouTube

Untuk pelaku di lapangan, strategi paling aman adalah membangun kompetensi dan kredibilitas sekarang. Ikuti pelatihan dan sertifikasi pilot drone secara serius, dokumentasikan setiap operasi dengan rapi, dan biasakan pola kerja yang patuh pada prosedur.

Ketika regulasi akhirnya membuka koridor yang lebih longgar, yang akan dipercaya lebih dulu adalah operator yang rekam jejaknya bersih.

Menyiapkan diri sebelum langit rendah kita dibuka

Kita tidak perlu meniru Tiongkok langkah demi langkah, karena kondisinya berbeda, tetapi kita harus berhenti menunggu.

Regulasi biasanya bergerak mengikuti bukti, dan bukti baru lahir dari operasi nyata yang aman, terdokumentasi, dan bermanfaat.

Buat teman-teman pilot, instruktur, dan pengambil keputusan di institusi, pekerjaan rumahnya ada di tiga hal.

Fuel the next flight

Suka dengan tulisan ini?

Kalau artikel ini membantu, traktir saya secangkir kopi. Dukunganmu bikin saya bisa terus menulis dan berbagi lebih banyak.

Traktir kopi

Pahami aturan sampai ke detail, naikkan standar keselamatan di atas minimum yang diwajibkan, dan bangun tim yang paham operasi, data, dan manajemen risiko sekaligus.

Itu modal yang akan terpakai apa pun bentuk akhir kebijakan ruang udara kita nanti.

Kalau institusi atau perusahaan Anda ingin menyiapkan SDM drone yang kompeten dan siap menghadapi lanskap regulasi yang terus berubah, program pelatihan Remote Pilot Academy bisa menjadi titik awal yang praktis. Silakan lihat opsi pelatihan dan kemitraannya di halaman kerja sama pelatihan drone, lalu kita diskusikan kebutuhan yang paling sesuai dengan operasi Anda.

Comments

You must be logged in to comment

No comments yet. Be the first to comment!

Author profile picture

Liu Purnomo

@liupurnomo

I'm a Software Engineer who turns coffee into code, and sometimes I even make interactive web things that work! ☕💻 I'm also a certified multitasker: an Expert Drone Pilot (ask me for aerial selfies!), a Certified Instructor/Public Speaker (I talk a lot), and a Seasonal Runner who believes in running only when the weather is perfect. Let's connect!

Related Posts

UU Pengelolaan Ruang Udara, Taring baru TNI AU
Liu Purnomo
Liu PurnomoinEditorial

UU Pengelolaan Ruang Udara, Taring baru TNI AU

Undang-Undang Pengelolaan Ruang Udara yang baru disahkan memberikan kewenangan khusus kepada TNI AU dalam penyidikan pelanggaran wilayah udara. Bagi para pelanggar yang selama ini bebas terbang tanpa izin di zona terlarang, era "main-main" sudah berakhir. Jeratan hukum kini menanti mereka yang masih nekat melanggar kedaulatan langit Indonesia.

10 bulan yang lalu·
2610
0
0
UU Pengelolaan Ruang Udara, Taring baru TNI AU
Dengung Penyelamat di Tengah Krisis
Liu Purnomo
Liu PurnomoinEditorial

Dengung Penyelamat di Tengah Krisis

Pesawat nirawak telah bertransformasi dari alat perang menjadi "Dengung Penyelamat" yang menyelamatkan nyawa. Dari Wuhan hingga Malawi, dari ruang isolasi pandemi hingga reruntuhan bencana, drone kini hadir sebagai utusan harapan ketika jarak dan bahaya memisahkan manusia dari pertolongan.

10 bulan yang lalu·
2430
0
0
Dengung Penyelamat di Tengah Krisis
Ketika AI "coding assistant" Menggerus Kemampuan Pemrograman
Liu Purnomo
Liu PurnomoinEditorial

Ketika AI "coding assistant" Menggerus Kemampuan Pemrograman

Penggunaan AI untuk coding meningkatkan produktivitas hingga 55 persen, namun penelitian terbaru mengungkap dampak tersembunyi: penurunan kemampuan berpikir kritis dan risiko kesepian digital di kalangan software engineer.

10 bulan yang lalu·
2420
0
0
Ketika AI "coding assistant" Menggerus Kemampuan Pemrograman
JavaScript dan Dominasi Web Modern
Liu Purnomo
Liu PurnomoinEditorial

JavaScript dan Dominasi Web Modern

JavaScript telah menjadi bahasa pemrograman paling populer di dunia sejak lebih dari satu dekade terakhir. Dari awalnya diciptakan hanya dalam 10 hari, kini bahasa ini menopang hampir seluruh ekosistem web modern.

10 bulan yang lalu·
1329
0
0
JavaScript dan Dominasi Web Modern
Howard Hughes, Jenius Eksentrik yang Mengubah Dunia Penerbangan
Liu Purnomo
Liu PurnomoinEditorial

Howard Hughes, Jenius Eksentrik yang Mengubah Dunia Penerbangan

Howard Hughes bernama lengkap Howard Robard Hughes, Jr. (24 Desember 1905 – 5 April 1976) adalah seorang penerbang, insinyur, industrialis, produser film, sutradara film, filantropis Amerika Serikat dan salah satu orang terkaya di dunia.

hampir 6 tahun yang lalu·
954
0
0
Howard Hughes, Jenius Eksentrik yang Mengubah Dunia Penerbangan

Table of Contents

  • Apa sebenarnya yang dibicarakan di Wuhan
  • Resep Tiongkok yang sulit disalin begitu saja
  • Benturan pertama, ruang udara kita belum dirancang untuk lalu lintas rendah
  • Izin berlapis yang dirasakan operator setiap hari
  • Manusia yang belum siap
  • Peluang yang menurut saya realistis dikerjakan sekarang
  • Menyiapkan diri sebelum langit rendah kita dibuka

Sponsored

Tulisan Terbaru

  • Buku Drone yang bahas dari Sisi Teknologi hingga Regulasi
    Drone
  • Review Buku DRONE Karya Liu Purnomo
    Drone
  • UU No. 21 Tahun 2025: Indonesia Resmi Atur Pengelolaan Ruang Udara
    Drone
  • Rahasia Lulus Ujian CBT Remote Pilot Certificate (RPC) di Percobaan Pertama: Review Lengkap Bank Soal Ujian Terlengkap di Indonesia
    Drone
  • Mengapa Sertifikasi adalah Tiket Masuk Karir Anda?
    Drone