Kementerian Lingkungan Hidup bersama Badan Pengendalian Lingkungan Hidup menggelar pelatihan serta sertifikasi remote pilot drone. Program intensif ini berlangsung selama enam hari, mulai 24 Februari sampai 1 Maret 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda Project Mangroves for Coastal Resilience atau M4CR. Program didukung oleh Bank Dunia untuk memulihkan ekosistem pesisir serta memperkuat ketahanan kawasan dari abrasi.

Sebanyak 30 peserta hadir menyelesaikan seluruh rangkaian pembelajaran. Para personel dipersiapkan mengoperasikan drone guna memetakan kawasan mangrove secara akurat.

Pelatihan ini memperkuat kesinambungan dari program terdahulu seperti bimtek pengoperasian drone lingkup KLHK.

Pemerintah menetapkan kewajiban penyusunan Peta Mangrove Nasional berskala minimal 1 banding 25.000. Mandat ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove.

Penggunaan drone mempercepat verifikasi lapangan pada area berlumpur dan lebat. Metode udara menghasilkan data visual tajuk pohon yang sangat detail.

Operasional armada lapangan menggunakan drone industri seri DJI Matrice. Semua unit wajib terdaftar resmi melalui sistem SIDOPI GO milik Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

Pengoperasian unit besar mewajibkan kepemilikan lisensi resmi penerbang. Aturan ini merujuk pada ketentuan keselamatan sipil regulasi drone dalam PKPS Bagian 107.

Pembelajaran kelas terlaksana di Avenzel Hotel and Convention Cibubur, Jawa Barat. Sesi teori membahas regulasi ruang udara, aerodinamika, serta perencanaan jalur terbang.

Praktik terbang lapangan dipusatkan di PUSDIRGA Learning Center, Jakarta Timur. Lokasi ini menyediakan area terbuka yang ideal untuk simulasi manuver.

Peserta kegiatan berasal dari lintas unit kerja teknis lingkungan hidup. Utusan kantor daerah mencakup Balai Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Mangrove wilayah Jambi, Pontianak, serta Sorong.

Perwakilan kantor pusat meliputi Direktorat Penyelenggaraan Sumber Daya Alam Berkelanjutan, Direktorat PDLKWS, Direktorat Ekosistem Perairan Darat, Direktorat Ekosistem Gambut, Direktorat PDLUK, serta tim Project Implementation Unit M4CR.

Instruktur melatih peserta melakukan inspeksi fisik pra-terbang secara disiplin. Ketelitian ini menjamin kesiapan perangkat sebelum rotor berputar.

Peserta menjalani simulasi terbang manual tanpa panduan GPS. Latihan ini membentuk refleks motorik penerbang saat drone kehilangan sinyal navigasi di area pesisir.

Materi tanggap darurat melatih respon peserta saat terjadi gangguan sinyal kendali, angin kencang mendadak, atau penurunan tegangan baterai. Peserta menerapkan prinsip aeronautical decision making untuk memitigasi bahaya.

Setiap penerbang dituntut memahami kewenangan mutlak seorang remote pilot in command. Keselamatan warga sekitar dan kru darat selalu menjadi prioritas utama misi.

Tahap akhir program menguji kemahiran terbang peserta melalui skema evaluasi ketat. Tim penguji menilai ketepatan orientasi terbang dan pendaratan presisi.

Peserta juga mempelajari alur olah data foto udara untuk menghasilkan peta ortofoto dan model elevasi digital. Informasi ini menjadi bahan baku Sistem Informasi Perlindungan Ekosistem Mangrove.

Peserta yang lulus memperoleh sertifikat kompetensi resmi sesuai standar Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Legalitas ini menjamin keabsahan data inventarisasi hutan di mata hukum.

Instansi pemerintah yang ingin mengadakan pelatihan sejenis dapat membaca informasi lengkap pada laman program kemitraan Remote Pilot Academy.