Pemerintah negara-negara Uni Eropa dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) memprioritaskan kontrak senjata penangkal drone kepada produsen pertahanan mapan demi percepatan pengiriman pada 2026 hingga 2028.
Langkah tersebut diambil menyusul masifnya penggunaan drone murah di Ukraina, kawasan Timur Tengah, dan Laut Merah yang membuka celah pertahanan udara jarak pendek Eropa. Produksi massal mulai pertengahan 2026 ditujukan untuk mengisi kekosongan akibat kelangkaan sistem rudal pertahanan Patriot.
Pemerintah negara-negara Eropa merespons kondisi itu dengan mempercepat pesanan rudal, sensor, dan perangkat perang elektronik. Kontraktor utama seperti Thales, Elbit Systems, Rheinmetall, dan Diehl Defence mulai merombak lini perakitan, mempercepat otomatisasi, serta mendanai komponen kritis lebih awal.
Thales mencatat lonjakan pengadaan setelah Kementerian Pertahanan Inggris memesan ratusan rudal serbaguna ringan (Lightweight Multirole Missiles) senilai 36 juta poundsterling pada 1 Juni 2026. Sehari berselang, kementerian kembali menambah pesanan lanjutan dengan nilai yang sama, sehingga total kontrak mencapai 72 juta poundsterling pada kuartal kedua.
Rudal tersebut difungsikan sebagai senjata tembak cepat penangkal drone dan pertahanan udara jarak pendek untuk memulihkan stok militer setelah lebih dari 100 drone dihancurkan di mandala tempur Timur Tengah. Sebelumnya, dua pengadaan pengisian stok telah disepakati pada April dan Mei 2026.
Dokumen kementerian menunjukkan akumulasi kontrak pengadaan rudal mencapai sekitar 1,6 miliar poundsterling sejak 2024, kendati sejumlah pemberitaan menyebut angka 1,16 miliar poundsterling. Total pengadaan itu mencakup 5.000 rudal untuk Kyiv pada Maret 2025 serta pemenuhan persediaan militer Inggris melalui kelompok kerja Task Force Hirst.
Evolusi persenjataan ini sejalan dengan dinamika perang drone modern yang menuntut efisiensi biaya dan kecepatan produksi massal amunisi pertahanan.
Thales mengoperasikan satu lini modular di Belfast untuk memproduksi rudal peluncur darat, dudukan meriam kapal perang DS30M, serta helikopter Wildcat. Hasil produksi di pabrik tersebut meningkat empat kali lipat sejak 2022 dan menyerap sekitar 700 tenaga kerja.
Pemanfaatan teknologi kembaran digital (digital twins) dan kendali mutu berbasis kecerdasan buatan memangkas waktu uji penerimaan barang hingga 25 persen. Perusahaan kini menyimpan cadangan motor pendorong dan hulu ledak yang setara dengan enam bulan kapasitas produksi puncak, sementara otomatisasi menekan biaya satuan rudal hingga 12 persen.
Kontraktor lain, Elbit Systems, menandatangani paket modernisasi bernilai 1,4 miliar dollar AS atau sekitar 1,3 miliar euro dengan pelanggan Eropa pada 28 Mei 2026. Kesepakatan itu mencakup amunisi berputar (loitering munitions), sistem komando kendali berbasis kecerdasan buatan, serta baterai pertahanan udara.
Kebutuhan mendesak di ruang udara turut memicu pembenahan menyeluruh karena kesiapan operasional sistem antidrone membutuhkan integrasi perangkat keras yang dapat segera diproduksi tanpa hambatan birokrasi manufaktur.
Perusahaan rintisan berskala kecil hanya memperoleh porsi pendanaan riset awal melalui Program Pencegat Berbiaya Rendah (Low-Cost Interceptor Programme) yang dipimpin konsorsium lima negara pimpinan Inggris. Tiga perusahaan kecil Inggris mendapatkan kontrak studi kelayakan tahap pertama senilai 3,16 juta poundsterling pada Juli 2026 untuk merancang rudal kelas 100.000 euro penangkal kawanan drone sejenis Shahed.
Kendati demikian, slot produksi spiral untuk tahun 2027 tetap disiapkan bagi konsorsium besar seperti MBDA dan Thales jika uji coba rancang bangun berjalan lancar. MBDA juga memimpin proyek drone tempur demonstrator Remote Carrier Compact bersama Prancis, Jerman, dan Spanyol yang menargetkan penerbangan perdana pada 2029.
Prancis menunjuk Safran Electronics & Defense bersama MBDA untuk memproduksi sistem serangan darat jarak jauh Thundart berjangkauan 150 kilometer guna menggantikan sekitar sembilan peluncur roket satuan pada 2030.
"Menghadapi tantangan kritis dari pengacauan dan pemutusan sinyal sistem satelit navigasi global, Safran Electronics & Defense menghadirkan keunggulan navigasi inersia dan optronik guna menjamin akurasi dalam segala kondisi," kata Direktur Unit Bisnis Global untuk Pertahanan di Safran Electronics & Defense Alexandre Ziegler.
Kedua entitas pertahanan tersebut dijadwalkan meresmikan pembentukan perusahaan patungan di Paris pada Januari 2027 untuk menangani siklus pengembangan dan produksi secara terpadu.
"Dengan memanfaatkan subsistem yang matang dan peningkatan industri yang sudah mapan, kami mampu merespons kebutuhan angkatan bersenjata secara tangkas," tutur Wakil Presiden Eksekutif Program dan Direktur Pengelola MBDA di Prancis Stéphane Reb.
Pengadaan alutsista Eropa ke depan mewajibkan klausul penangkalan drone pada setiap kontrak rudal, dengan prioritas pesanan kilat diberikan kepada pabrik yang sanggup mengatur ulang peranti perkakas dalam waktu kurang dari 48 jam.