HomeBlogEventsProjectsAboutContact

Menu

Table of Contents

Tulisan Terbaru

6 Penyebab Foto Tidak Terolah di Agisoft Metashape

Drone

Mechanical Shutter pada Drone Pemetaan dan Alasan Pentingnya

Drone

Low-Altitude Economy dari Wuhan, Mengapa Sulit Masuk Indonesia

Editorial

Buku Drone yang bahas dari Sisi Teknologi hingga Regulasi

Drone

Review Buku DRONE Karya Liu Purnomo

Drone
Bocoran DJI Neo 3 dan Fitur yang Layak Ditunggu

DRNLogbook entry

Bocoran DJI Neo 3 dan Fitur yang Layak Ditunggu

Sensor lebih besar, rekam vertikal native, dan RC Mini ikut bocor. Ini pembacaan seorang remote pilot atas bocoran DJI Neo 3 yang belum resmi.

Liu Purnomo
Oleh Liu PurnomoDi tulis tanggal 7 Oktober 2026
Drone
1 views0 comments

Sponsored

Sponsored

Liu PurnomoLiu PurnomoBlog

Jelajahi

  • Beranda
  • Blog
  • Tutorial
  • Events
  • Projects
  • Buku

Tentang

  • Tentang Saya
  • Kerja Sama
  • Kontak
  • Bio Links
  • Traktir Author

Others

  • Changelog
  • Systems
  • Sitemap
  • Kalkulator GSD
  • QR Code Generator

Ikuti Saya

  • Github
  • LinkedIn
  • Instagram
  • YouTube
  • X

Hak Cipta © 2026 Liu Purnomo. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Kebijakan PrivasiKetentuan Penggunaan
0
0

Setiap kali DJI bersiap merilis drone ringan, linimasa penuh dengan render buram dan daftar fitur yang sulit dipercaya. Kali ini giliran Neo 3. Kalau separuh saja dari bocorannya benar, lompatan dari Neo 2 akan jauh lebih besar daripada pembaruan tahunan yang biasa kita lihat di kelas entry-level.

Saya perlu jujur sejak awal. Saya belum memegang unit Neo 3, DJI belum mengonfirmasi apa pun, dan semua yang saya tulis di sini berasal dari bocoran, foto yang beredar, dan spekulasi. Anggap artikel ini sebagai pembacaan awal, bukan review.

Saya membacanya dengan kacamata pilot yang hari-harinya terbang dengan drone pemetaan dan mengajar peserta pelatihan. Artikel ini membedah bocorannya satu per satu, memisahkan yang masuk akal secara teknis dari yang masih tanda tanya, lalu ditutup dengan urutan pengujian yang akan saya jalankan kalau unitnya sampai ke tangan saya.

Rangkuman bocoran yang beredar sejauh ini

Sponsored

Neo generasi pertama dikenal sebagai drone mungil dengan sensor 1/2 inci dan bobot di bawah 250 gram, cocok untuk vlogger dan pengguna yang ingin terbang tanpa ribet. Neo 2 melanjutkannya dengan penyempurnaan, dan bocoran Neo 3 kini menunjuk ke arah yang lebih ambisius. Berikut poin yang paling sering muncul di berbagai sumber.

  • Sensor persegi berukuran 1/1.1 inci yang memungkinkan perekaman vertikal secara native.
  • Zoom lossless 2x untuk memperkecil jarak ke subjek tanpa menurunkan resolusi keluaran.
  • ActiveTrack berkecepatan tinggi untuk mengikuti subjek yang bergerak cepat.
  • SelfieShot 2.0 sebagai penyempurnaan mode swafoto otomatis.
  • Penginderaan rintangan ke segala arah yang diklaim lebih baik dari generasi sebelumnya.
  • Kontrol gestur dengan satu tangan.
  • Pengendali baru bernama DJI RC Mini.
  • Desain baru dengan tata letak pusher prop, rangka lebih tertutup, dan tombol kontrol langsung di badan drone.

Saya membagi bocoran ini menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama berisi hal yang masuk akal secara fisika dan sejalan dengan arah produk DJI, kelompok kedua berisi fitur yang hasilnya bergantung pada firmware, dan kelompok ketiga berisi hal yang belum ada kabarnya sama sekali. Sensor besar masuk kelompok pertama. ActiveTrack cepat masuk kelompok kedua karena angka di brosur hampir selalu berbeda dari perilaku di lapangan.

Bocoran DJI Neo 3 dan Fitur yang Layak Ditunggu
Drone dibawah 250 gram banyak dibeli karena compact

Foto dan render yang beredar juga bisa berasal dari prototipe awal, dan DJI sering mengubah detail kecil menjelang peluncuran. Saya akan memperlakukan semua gambar sebagai petunjuk arah, tidak sebagai spesifikasi final.

Sensor persegi 1/1.1 inci dan alasan video vertikal jadi native

Bagian ini paling menarik buat saya. Sensor persegi berarti satu bidang gambar bisa dipotong menjadi frame horizontal untuk YouTube atau frame vertikal untuk Reels dan TikTok, tanpa memutar gimbal dan tanpa membuang banyak piksel. Pada drone kecil yang ada sekarang, video vertikal biasanya dihasilkan dengan memotong dari frame horizontal, sehingga resolusi efektifnya turun.

Ukuran 1/1.1 inci juga lebih besar daripada sensor 1/1.3 inci yang dipakai di kelas Mini 4 Pro dan Avata 2, apalagi dibanding sensor 1/2 inci pada Neo pertama. Sensor yang lebih besar menangkap lebih banyak cahaya, jadi pengambilan gambar menjelang magrib atau di bawah kanopi hutan seharusnya lebih bersih. Tentu performa akhirnya tetap ditentukan oleh lensa, bukaan, dan pemrosesan gambar, jadi ukuran sensor saja belum menjamin kualitas.

Ada harga yang harus dibayar. Sensor persegi besar menuntut lensa dengan lingkar gambar yang lebih lebar, dan itu cenderung menambah ukuran serta bobot modul kamera. Saya penasaran apakah Neo 3 masih bisa bertahan di bawah 250 gram, karena bobot itu sebagian besar alasan orang memilih keluarga Neo.

Zoom 2x lossless, ActiveTrack kencang, dan SelfieShot 2.0

Istilah lossless pada zoom 2x hampir pasti merujuk pada crop dari sensor beresolusi tinggi, lalu hasilnya diolah menjadi video 4K. Ini dugaan saya dari pola produk DJI sebelumnya, belum ada konfirmasi. Zoom semacam ini berguna untuk mengubah komposisi tanpa menggerakkan drone, tetapi jangan membayangkan lensa optik. Detail di area crop tetap dibatasi oleh resolusi sensor dan ketajaman lensa.

ActiveTrack berkecepatan tinggi adalah klaim yang paling sulit diverifikasi dari bocoran. Di lapangan, pelacakan jarang gagal karena kecepatan semata. Kegagalan biasanya datang dari subjek yang lewat di belakang pohon, pakaian yang warnanya mirip latar, atau perubahan arah mendadak. Saya akan menguji dengan pesepeda dan pengendara motor di jalan desa yang banyak pepohonan, bukan di lapangan kosong yang membuat semua drone terlihat bagus.

SelfieShot 2.0 masih menyisakan banyak tanda tanya. Belum jelas apa yang berubah dari versi pertama, apakah polanya bertambah, framing-nya lebih cerdas, atau jangkauannya lebih jauh. Kontrol gestur satu tangan juga perlu dilihat dalam kondisi nyata, karena pengenalan gestur sering goyah saat matahari tepat di belakang pengguna atau saat pengguna memakai sarung tangan.

Desain pusher prop, rangka tertutup, dan RC Mini

Penginderaan rintangan ke segala arah adalah bagian yang paling saya tunggu. Sensor pada Neo 2 sudah naik kelas dibanding Neo pertama, dan bocoran Neo 3 mengklaim peningkatan lagi. Pengujiannya sederhana dan keras. Saya akan menerbangkan drone ke ranting kecil, kabel tipis, kaca, serta dinding polos tanpa tekstur, karena empat benda itu yang sering lolos dari sensor visual.

Tombol kontrol di badan drone terdengar sepele, tetapi berguna di lapangan. Peserta pelatihan sering terhenti hanya karena ponsel kehabisan baterai atau aplikasi tidak mau terhubung. Kalau drone bisa dinyalakan dan memulai mode rekam dari tombol di bodinya, alur kerja untuk pengguna kasual jauh lebih lancar.

DJI RC Mini adalah bagian yang paling sedikit informasinya. Dari namanya saya menduga ini pengendali ringkas, tetapi belum jelas apakah memiliki layar sendiri atau bergantung pada ponsel. Jangkauan sinyal dan kenyamanan genggam akan menentukan apakah pengendali ini berguna bagi pilot yang serius atau hanya aksesori pelengkap.

Pertanyaan besar yang belum terjawab

Bocoran paling lengkap sekalipun masih menyisakan lubang pada hal yang menentukan keputusan membeli. Berikut yang paling saya tunggu jawabannya.

Soal harga, saya sengaja tidak menebak angka. Sensor besar dan pengendali baru cenderung mendorong harga naik, sedangkan posisi seri Neo selama ini justru terjangkau. Kita tunggu pengumuman resmi.

Pertama, kualitas kamera. Saya akan membandingkan hasil horizontal dan vertikal dari sensor yang sama, memeriksa noise saat senja, dan melihat seberapa bersih zoom 2x pada 4K. Kalau klaim sensor besar terbukti, bagian ini akan menjadi alasan utama membeli.

Fuel the next flight

Suka dengan tulisan ini?

Kalau artikel ini membantu, traktir saya secangkir kopi. Dukunganmu bikin saya bisa terus menulis dan berbagi lebih banyak.

Traktir kopi

Kedua, penghindaran rintangan, karena menyangkut keselamatan unit dan orang di sekitar. Ketiga, ActiveTrack berkecepatan tinggi dengan subjek nyata di medan yang berantakan. Keempat, jangkauan dan kenyamanan RC Mini. Terakhir, mode manual FPV kalau memang ada, dan saya akan menguji kemudahan transisi antarmodenya karena itu sering luput dari ulasan.

Comments

You must be logged in to comment

No comments yet. Be the first to comment!

Author profile picture

Liu Purnomo

@liupurnomo

I'm a Software Engineer who turns coffee into code, and sometimes I even make interactive web things that work! ☕💻 I'm also a certified multitasker: an Expert Drone Pilot (ask me for aerial selfies!), a Certified Instructor/Public Speaker (I talk a lot), and a Seasonal Runner who believes in running only when the weather is perfect. Let's connect!

Related Posts

Panduan Lengkap Regulasi dan Aturan Drone di Indonesia 2024
Liu Purnomo
Liu PurnomoinDrone

Panduan Lengkap Regulasi dan Aturan Drone di Indonesia 2024

Ingin terbangkan drone secara legal di Indonesia? Pelajari aturan drone, syarat izin terbang, sertifikasi pilot, dan prosedur perizinan lengkap di sini.

sekitar 2 tahun yang lalu·
10296
0
0
Panduan Lengkap Regulasi dan Aturan Drone di Indonesia 2024
Cara Download Citra Satelit Resolusi Tinggi Gratis dan Terbaru
Liu Purnomo
Liu PurnomoinDrone

Cara Download Citra Satelit Resolusi Tinggi Gratis dan Terbaru

Panduan lengkap cara download citra satelit resolusi tinggi gratis dari Google Maps dan sumber lain menggunakan Universal Map Downloader. Cocok untuk pemetaan drone dan GIS.

lebih dari 4 tahun yang lalu·
6628
0
0
Cara Download Citra Satelit Resolusi Tinggi Gratis dan Terbaru
Jenis-Jenis Drone: Panduan Lengkap Klasifikasi dan Kategori UAV 2025
Liu Purnomo
Liu PurnomoinDrone

Jenis-Jenis Drone: Panduan Lengkap Klasifikasi dan Kategori UAV 2025

Mengenal 6 klasifikasi utama drone: bobot (di bawah 250g, 250g-25kg, lebih dari 25kg), aerodinamis (fixed wing, rotary wing, flapping wing), takeoff/landing, range, altitude & endurance, dan aplikasi sesuai regulasi Indonesia.

lebih dari 8 tahun yang lalu·
6425
0
0
Jenis-Jenis Drone: Panduan Lengkap Klasifikasi dan Kategori UAV 2025
Tutorial Agisoft - Cara Mengolah Data Drone
Liu Purnomo
Liu PurnomoinDrone

Tutorial Agisoft - Cara Mengolah Data Drone

Langkah-langkah praktis mengolah data drone di Agisoft Metashape, cocok untuk pemula hingga mahir.

lebih dari 5 tahun yang lalu·
5710
0
0
Tutorial Agisoft - Cara Mengolah Data Drone
Liu Purnomo
Liu PurnomoinDrone

UU No. 21 Tahun 2025: Indonesia Resmi Atur Pengelolaan Ruang Udara

Disahkan 24 Desember 2025 — Lembaran Negara RI Tahun 2025 Nomor 192

8 bulan yang lalu·
5679
0
0

Table of Contents

  • Rangkuman bocoran yang beredar sejauh ini
  • Sensor persegi 1/1.1 inci dan alasan video vertikal jadi native
  • Zoom 2x lossless, ActiveTrack kencang, dan SelfieShot 2.0
  • Desain pusher prop, rangka tertutup, dan RC Mini
  • Pertanyaan besar yang belum terjawab
  • Urutan pengujian yang akan saya jalankan kalau Neo 3 benar-benar rilis

Sponsored

Tulisan Terbaru

  • 6 Penyebab Foto Tidak Terolah di Agisoft Metashape
    Drone
  • Mechanical Shutter pada Drone Pemetaan dan Alasan Pentingnya
    Drone
  • Low-Altitude Economy dari Wuhan, Mengapa Sulit Masuk Indonesia
    Editorial
  • Buku Drone yang bahas dari Sisi Teknologi hingga Regulasi
    Drone
  • Review Buku DRONE Karya Liu Purnomo
    Drone

Satu lagi yang akan saya periksa adalah kecepatan baca sensor. Di drone pemetaan kami memakai mechanical shutter untuk menghindari distorsi rolling shutter, dan drone vlog kecil hampir pasti tidak punya itu. Sensor besar dengan pembacaan lambat bisa menghasilkan efek jello saat drone bermanuver cepat atau bergetar tertiup angin, jadi saya akan menguji ini dengan panning kencang dan terbang di pesisir yang berangin.

Satu catatan keselamatan dari saya sebagai instruktur. Semakin otomatis sebuah drone, semakin besar godaan untuk berhenti mengawasinya. Fitur tracking dan penghindar rintangan tidak membebaskan pilot dari tanggung jawab sebagai remote pilot in command, dan pengawasan visual tetap wajib sepanjang penerbangan.

Dari gambar yang beredar, Neo 3 tampak memakai tata letak pusher prop dengan bodi yang lebih tertutup. Saya menduga tata letak ini mengurangi kemungkinan baling-baling masuk ke frame saat kamera bergerak atau zoom, yang cukup mengganggu pada drone ringan sebelumnya. Rangka yang lebih tertutup juga memberi perlindungan lebih saat senggolan ringan, walau tidak menyelamatkan drone dari tabrakan keras. Pemahaman dasar tentang propeller drone dan rangka drone membantu menilai klaim ketahanan ini dengan kepala dingin.

DJI Neo 3 Dengan RC Mini
DJI Neo 3 Dengan RC Mini
  • Apakah ada mode manual FPV, dan seberapa bebas kendalinya dibanding mode stabil bawaan.
  • Berapa kecepatan maksimum drone, terutama saat ActiveTrack aktif.
  • Apakah profil warna D-Log M tersedia untuk keperluan color grading.
  • Berapa lama waktu terbang nyata dengan sensor besar dan sensor rintangan yang lebih banyak.
  • Apa yang dimaksud dengan transceiver bawaan dan bagaimana pengaruhnya pada alur kerja.
  • Berapa harga resmi untuk paket drone saja dan paket dengan RC Mini.
YouTube
YouTube Video Thumbnail
YouTube

Mode manual FPV akan mengubah posisi Neo 3 secara drastis. Kalau tersedia, drone ini bisa menjadi pintu masuk murah ke dunia drone FPV bagi pemula yang takut menabrakkan unit mahal. Kalau tidak tersedia, Neo 3 tetap drone vlog yang bagus, tetapi tidak menawarkan hal baru bagi pilot yang suka kebebasan terbang.

Waktu terbang juga perlu dibaca dengan hati-hati. Sensor lebih besar, pemrosesan video lebih berat, dan penginderaan omnidirectional semuanya menguras daya, sementara bodi ringan membatasi kapasitas sel. Pemahaman tentang baterai drone membuat kita tidak mudah tergiur angka menit di brosur, karena angka itu biasanya diukur dalam kondisi ideal tanpa angin.

Satu hal lagi untuk pembaca di Indonesia. Bobot ringan tidak otomatis membebaskan drone dari aturan ruang udara. Sebelum terbang, cek zona dilarang terbang, pelajari cara membaca NOTAM, dan ikuti perkembangan regulasi baru seperti UU No. 21 Tahun 2025 tentang pengelolaan ruang udara.

Urutan pengujian yang akan saya jalankan kalau Neo 3 benar-benar rilis

Dan kamu sendiri, mana yang ingin saya uji lebih dulu kalau unitnya ada? Kualitas kamera, tracking kecepatan tinggi, penghindar rintangan, manual FPV, atau jangkauan RC Mini? Tulis pilihanmu di kolom komentar, dan baca dulu panduan berkomentar di blog ini supaya komentarmu langsung muncul.

Buat kamu yang berencana memakai drone sebagai alat kerja, ingat bahwa drone vlog sekecil Neo 3 punya batas. Untuk pemetaan, baca strategi memilih drone untuk pemetaan supaya tidak salah investasi. Kalau kamu atau instansimu ingin mulai terbang dengan benar, mulai dari dasar airmanship sampai sertifikasi remote pilot, lihat program pelatihan Remote Pilot Academy di halaman kerja sama dan pelatihan drone.