
DRNLogbook entry
Bocoran DJI Neo 3 dan Fitur yang Layak Ditunggu
Sensor lebih besar, rekam vertikal native, dan RC Mini ikut bocor. Ini pembacaan seorang remote pilot atas bocoran DJI Neo 3 yang belum resmi.
1 views0 comments

DRNLogbook entry
Sensor lebih besar, rekam vertikal native, dan RC Mini ikut bocor. Ini pembacaan seorang remote pilot atas bocoran DJI Neo 3 yang belum resmi.
Setiap kali DJI bersiap merilis drone ringan, linimasa penuh dengan render buram dan daftar fitur yang sulit dipercaya. Kali ini giliran Neo 3. Kalau separuh saja dari bocorannya benar, lompatan dari Neo 2 akan jauh lebih besar daripada pembaruan tahunan yang biasa kita lihat di kelas entry-level.
Saya perlu jujur sejak awal. Saya belum memegang unit Neo 3, DJI belum mengonfirmasi apa pun, dan semua yang saya tulis di sini berasal dari bocoran, foto yang beredar, dan spekulasi. Anggap artikel ini sebagai pembacaan awal, bukan review.
Saya membacanya dengan kacamata pilot yang hari-harinya terbang dengan drone pemetaan dan mengajar peserta pelatihan. Artikel ini membedah bocorannya satu per satu, memisahkan yang masuk akal secara teknis dari yang masih tanda tanya, lalu ditutup dengan urutan pengujian yang akan saya jalankan kalau unitnya sampai ke tangan saya.
Neo generasi pertama dikenal sebagai drone mungil dengan sensor 1/2 inci dan bobot di bawah 250 gram, cocok untuk vlogger dan pengguna yang ingin terbang tanpa ribet. Neo 2 melanjutkannya dengan penyempurnaan, dan bocoran Neo 3 kini menunjuk ke arah yang lebih ambisius. Berikut poin yang paling sering muncul di berbagai sumber.
Saya membagi bocoran ini menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama berisi hal yang masuk akal secara fisika dan sejalan dengan arah produk DJI, kelompok kedua berisi fitur yang hasilnya bergantung pada firmware, dan kelompok ketiga berisi hal yang belum ada kabarnya sama sekali. Sensor besar masuk kelompok pertama. ActiveTrack cepat masuk kelompok kedua karena angka di brosur hampir selalu berbeda dari perilaku di lapangan.

Foto dan render yang beredar juga bisa berasal dari prototipe awal, dan DJI sering mengubah detail kecil menjelang peluncuran. Saya akan memperlakukan semua gambar sebagai petunjuk arah, tidak sebagai spesifikasi final.
Bagian ini paling menarik buat saya. Sensor persegi berarti satu bidang gambar bisa dipotong menjadi frame horizontal untuk YouTube atau frame vertikal untuk Reels dan TikTok, tanpa memutar gimbal dan tanpa membuang banyak piksel. Pada drone kecil yang ada sekarang, video vertikal biasanya dihasilkan dengan memotong dari frame horizontal, sehingga resolusi efektifnya turun.
Ukuran 1/1.1 inci juga lebih besar daripada sensor 1/1.3 inci yang dipakai di kelas Mini 4 Pro dan Avata 2, apalagi dibanding sensor 1/2 inci pada Neo pertama. Sensor yang lebih besar menangkap lebih banyak cahaya, jadi pengambilan gambar menjelang magrib atau di bawah kanopi hutan seharusnya lebih bersih. Tentu performa akhirnya tetap ditentukan oleh lensa, bukaan, dan pemrosesan gambar, jadi ukuran sensor saja belum menjamin kualitas.
Ada harga yang harus dibayar. Sensor persegi besar menuntut lensa dengan lingkar gambar yang lebih lebar, dan itu cenderung menambah ukuran serta bobot modul kamera. Saya penasaran apakah Neo 3 masih bisa bertahan di bawah 250 gram, karena bobot itu sebagian besar alasan orang memilih keluarga Neo.
Istilah lossless pada zoom 2x hampir pasti merujuk pada crop dari sensor beresolusi tinggi, lalu hasilnya diolah menjadi video 4K. Ini dugaan saya dari pola produk DJI sebelumnya, belum ada konfirmasi. Zoom semacam ini berguna untuk mengubah komposisi tanpa menggerakkan drone, tetapi jangan membayangkan lensa optik. Detail di area crop tetap dibatasi oleh resolusi sensor dan ketajaman lensa.
ActiveTrack berkecepatan tinggi adalah klaim yang paling sulit diverifikasi dari bocoran. Di lapangan, pelacakan jarang gagal karena kecepatan semata. Kegagalan biasanya datang dari subjek yang lewat di belakang pohon, pakaian yang warnanya mirip latar, atau perubahan arah mendadak. Saya akan menguji dengan pesepeda dan pengendara motor di jalan desa yang banyak pepohonan, bukan di lapangan kosong yang membuat semua drone terlihat bagus.
SelfieShot 2.0 masih menyisakan banyak tanda tanya. Belum jelas apa yang berubah dari versi pertama, apakah polanya bertambah, framing-nya lebih cerdas, atau jangkauannya lebih jauh. Kontrol gestur satu tangan juga perlu dilihat dalam kondisi nyata, karena pengenalan gestur sering goyah saat matahari tepat di belakang pengguna atau saat pengguna memakai sarung tangan.
Penginderaan rintangan ke segala arah adalah bagian yang paling saya tunggu. Sensor pada Neo 2 sudah naik kelas dibanding Neo pertama, dan bocoran Neo 3 mengklaim peningkatan lagi. Pengujiannya sederhana dan keras. Saya akan menerbangkan drone ke ranting kecil, kabel tipis, kaca, serta dinding polos tanpa tekstur, karena empat benda itu yang sering lolos dari sensor visual.
Tombol kontrol di badan drone terdengar sepele, tetapi berguna di lapangan. Peserta pelatihan sering terhenti hanya karena ponsel kehabisan baterai atau aplikasi tidak mau terhubung. Kalau drone bisa dinyalakan dan memulai mode rekam dari tombol di bodinya, alur kerja untuk pengguna kasual jauh lebih lancar.
DJI RC Mini adalah bagian yang paling sedikit informasinya. Dari namanya saya menduga ini pengendali ringkas, tetapi belum jelas apakah memiliki layar sendiri atau bergantung pada ponsel. Jangkauan sinyal dan kenyamanan genggam akan menentukan apakah pengendali ini berguna bagi pilot yang serius atau hanya aksesori pelengkap.
Bocoran paling lengkap sekalipun masih menyisakan lubang pada hal yang menentukan keputusan membeli. Berikut yang paling saya tunggu jawabannya.
Soal harga, saya sengaja tidak menebak angka. Sensor besar dan pengendali baru cenderung mendorong harga naik, sedangkan posisi seri Neo selama ini justru terjangkau. Kita tunggu pengumuman resmi.
Pertama, kualitas kamera. Saya akan membandingkan hasil horizontal dan vertikal dari sensor yang sama, memeriksa noise saat senja, dan melihat seberapa bersih zoom 2x pada 4K. Kalau klaim sensor besar terbukti, bagian ini akan menjadi alasan utama membeli.
Kedua, penghindaran rintangan, karena menyangkut keselamatan unit dan orang di sekitar. Ketiga, ActiveTrack berkecepatan tinggi dengan subjek nyata di medan yang berantakan. Keempat, jangkauan dan kenyamanan RC Mini. Terakhir, mode manual FPV kalau memang ada, dan saya akan menguji kemudahan transisi antarmodenya karena itu sering luput dari ulasan.
You must be logged in to comment
No comments yet. Be the first to comment!
@liupurnomo
I'm a Software Engineer who turns coffee into code, and sometimes I even make interactive web things that work! ☕💻 I'm also a certified multitasker: an Expert Drone Pilot (ask me for aerial selfies!), a Certified Instructor/Public Speaker (I talk a lot), and a Seasonal Runner who believes in running only when the weather is perfect. Let's connect!

Ingin terbangkan drone secara legal di Indonesia? Pelajari aturan drone, syarat izin terbang, sertifikasi pilot, dan prosedur perizinan lengkap di sini.


Panduan lengkap cara download citra satelit resolusi tinggi gratis dari Google Maps dan sumber lain menggunakan Universal Map Downloader. Cocok untuk pemetaan drone dan GIS.


Mengenal 6 klasifikasi utama drone: bobot (di bawah 250g, 250g-25kg, lebih dari 25kg), aerodinamis (fixed wing, rotary wing, flapping wing), takeoff/landing, range, altitude & endurance, dan aplikasi sesuai regulasi Indonesia.


Langkah-langkah praktis mengolah data drone di Agisoft Metashape, cocok untuk pemula hingga mahir.

Disahkan 24 Desember 2025 — Lembaran Negara RI Tahun 2025 Nomor 192
Satu lagi yang akan saya periksa adalah kecepatan baca sensor. Di drone pemetaan kami memakai mechanical shutter untuk menghindari distorsi rolling shutter, dan drone vlog kecil hampir pasti tidak punya itu. Sensor besar dengan pembacaan lambat bisa menghasilkan efek jello saat drone bermanuver cepat atau bergetar tertiup angin, jadi saya akan menguji ini dengan panning kencang dan terbang di pesisir yang berangin.
Satu catatan keselamatan dari saya sebagai instruktur. Semakin otomatis sebuah drone, semakin besar godaan untuk berhenti mengawasinya. Fitur tracking dan penghindar rintangan tidak membebaskan pilot dari tanggung jawab sebagai remote pilot in command, dan pengawasan visual tetap wajib sepanjang penerbangan.
Dari gambar yang beredar, Neo 3 tampak memakai tata letak pusher prop dengan bodi yang lebih tertutup. Saya menduga tata letak ini mengurangi kemungkinan baling-baling masuk ke frame saat kamera bergerak atau zoom, yang cukup mengganggu pada drone ringan sebelumnya. Rangka yang lebih tertutup juga memberi perlindungan lebih saat senggolan ringan, walau tidak menyelamatkan drone dari tabrakan keras. Pemahaman dasar tentang propeller drone dan rangka drone membantu menilai klaim ketahanan ini dengan kepala dingin.


Mode manual FPV akan mengubah posisi Neo 3 secara drastis. Kalau tersedia, drone ini bisa menjadi pintu masuk murah ke dunia drone FPV bagi pemula yang takut menabrakkan unit mahal. Kalau tidak tersedia, Neo 3 tetap drone vlog yang bagus, tetapi tidak menawarkan hal baru bagi pilot yang suka kebebasan terbang.
Waktu terbang juga perlu dibaca dengan hati-hati. Sensor lebih besar, pemrosesan video lebih berat, dan penginderaan omnidirectional semuanya menguras daya, sementara bodi ringan membatasi kapasitas sel. Pemahaman tentang baterai drone membuat kita tidak mudah tergiur angka menit di brosur, karena angka itu biasanya diukur dalam kondisi ideal tanpa angin.
Satu hal lagi untuk pembaca di Indonesia. Bobot ringan tidak otomatis membebaskan drone dari aturan ruang udara. Sebelum terbang, cek zona dilarang terbang, pelajari cara membaca NOTAM, dan ikuti perkembangan regulasi baru seperti UU No. 21 Tahun 2025 tentang pengelolaan ruang udara.
Dan kamu sendiri, mana yang ingin saya uji lebih dulu kalau unitnya ada? Kualitas kamera, tracking kecepatan tinggi, penghindar rintangan, manual FPV, atau jangkauan RC Mini? Tulis pilihanmu di kolom komentar, dan baca dulu panduan berkomentar di blog ini supaya komentarmu langsung muncul.
Buat kamu yang berencana memakai drone sebagai alat kerja, ingat bahwa drone vlog sekecil Neo 3 punya batas. Untuk pemetaan, baca strategi memilih drone untuk pemetaan supaya tidak salah investasi. Kalau kamu atau instansimu ingin mulai terbang dengan benar, mulai dari dasar airmanship sampai sertifikasi remote pilot, lihat program pelatihan Remote Pilot Academy di halaman kerja sama dan pelatihan drone.