
DRNLogbook entry· 5 min read
Tarif Trump 19%: Plot Twist untuk Industri Drone Indonesia?
Tarif impor 19% Trump bisa jadi bumerang bagi industri drone Indonesia. Apa dampaknya bagi inovasi dan harga drone lokal?
5 min read
Departures

DRNLogbook entry· 5 min read
Tarif impor 19% Trump bisa jadi bumerang bagi industri drone Indonesia. Apa dampaknya bagi inovasi dan harga drone lokal?
Guys, ada kabar yang bikin mixed feelings dari Washington. Trump baru aja "berhasil" maksa Indonesia nerima deal yang... well, agak "satu sisi". Mulai sekarang, setiap barang Indonesia yang mau masuk ke pasar AS kena tarif 19%. Sementara itu? AS dapet akses bebas tarif ke pasar Indonesia.
Context-nya penting nih guys. Trump lagi perang dagang gila-gilaan sama China. Drone dan komponen China kena tarif sampai 170% kalau mau masuk AS! DJI, yang raja drone dunia, praktis diblokir total dari pasar AS. Nah, ini bikin perusahaan AS dan global butuh alternatif supplier drone yang bukan dari China. Dan guess what? Indonesia mulai keliatan di radar mereka.
> Fun Fact: Populasi drone di Indonesia udah mencapai 190.000 unit. Market yang lumayan gede kan?
Paradoks menarik: Meskipun ekspor drone Indonesia ke AS bakal kena tarif 19%, ini masih jauh lebih murah dibanding tarif 170% yang kena produk China. Jadi relatif, drone Indonesia jadi lebih kompetitif di pasar AS.
Tapi sebelum kita terlalu excited, mari kita jujur dulu sama kondisi industri drone Indonesia: Kondisi yang agak miris:
Ironis banget kan? Kita punya kebijakan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) tapi prakteknya masih impor melulu.
Dan sekarang, sebagai bagian dari deal Trump, Indonesia malah setuju untuk menghapus persyaratan konten lokal buat perusahaan AS. Double irony!
Nah, ini dia bagian _counterintuitive_-nya. Meskipun ekspor drone Indonesia ke AS kena tarif 19%, ini malah bisa jadi peluang emas. Kok bisa? Begini logikanya:
1. Competitive Advantage vs China: Drone China kena tarif 170% ke AS, Drone Indonesia "cuma" kena 19%, Gap 151% itu ruang kompetisi yang huge!
2. "China Plus One" Strategy : Perusahaan global lagi gencar cari alternatif manufacturing di luar China. Indonesia bisa jadi kandidat kuat karena:
3. Free Access dari AS : Ini double-edged sword. Di satu sisi, perusahaan AS bisa masuk bebas ke Indonesia. Di sisi lain, mereka juga bisa invest di sini untuk produksi dan re-export ke AS dengan tarif yang lebih rendah.
Tapi guys, nggak semua cerita manis. Ada beberapa red flags yang perlu kita waspadai:
1. Transshipment Trap : Kalau drone Indonesia masih pakai komponen China, bisa kena tarif 40% karena dianggap "transshipment". Jadi bukan 19% lagi, tapi 40%!
2. Domestic Market Flooding : AS dapet akses bebas ke pasar Indonesia. Artinya drone AS bisa masuk tanpa tarif, sementara drone lokal harus bersaing head-to-head tanpa proteksi.
3. TKDN Elimination : Perusahaan AS nggak wajib pakai komponen lokal. Mereka bisa bawa semua dari luar, nggak kasih multiplier effect ke industri dalam negeri.
4. Dependency Risk : Kalau kita makin bergantung sama teknologi dan pasar AS, gimana kalau suatu saat mereka "ubah aturan main" lagi?
Jadi gimana dong strategi kita biar nggak jadi korban, tapi malah jadi winner dari situasi ini?
1. Diversifikasi Supply Chain ASAP : Kurangi ketergantungan sama komponen China. Cari supplier dari Taiwan, Jepang, Korea, atau bahkan mulai produksi lokal untuk komponen kritis.
2. Positioning sebagai "Trusted Manufacturing Hub" : Leverage hubungan baik sama AS untuk menarik investasi manufaktur drone. Jual positioning "politically safe alternative to China."
3. Mineral-to-Manufacturing Value Chain : Manfaatin kekayaan mineral kritis kita. Jangan cuma ekspor bijih mentah, tapi olah jadi komponen elektronik untuk drone.
4. Build Domestic Champions : Pemerintah harus jadi early adopter produk drone lokal. Procurement pemerintah bisa jadi anchor market yang powerful buat industri lokal.
5. R&D Investment Marathon : Investasi jangka panjang di riset dan pengembangan. Nggak bisa instant, tapi ini yang bakal bikin kita sustainable.
Tarif 19% ini cuma trigger awal. Yang menentukan masa depan industri drone Indonesia adalah: seberapa serious kita mau main?
Honest assessment:
Kita sering nyaman jadi "assembler" atau "distributor". Kalau mau naik kelas, harus berani jadi "innovator" dan "manufacturer".
Intinya: Tarif 19% ini bukan berkah, bukan kutukan—tapi peluang. Mau dimanfaatkan atau cuma jadi penonton?
Di era sekarang, yang menang bukan yang paling kuat, tapi yang paling cepat beradaptasi.
Jadi, menurut kamu: tarif 19% ini peluang atau hambatan? Industri drone Indonesia siap naik level? Tulis pendapatmu di bawah!
You must be logged in to comment
No comments yet. Be the first to comment!

Written by
Liu PurnomoI'm a Software Engineer who turns coffee into code, and sometimes I even make interactive web things that work! ☕💻 I'm also a certified multitasker: an Expert Drone Pilot (ask me for aerial selfies!), a Certified Instructor/Public Speaker (I talk a lot), and a Seasonal Runner who believes in running only when the weather is perfect. Let's connect!
More articles headed the same way as this one.
“— Donald Trump
Mereka akan membayar 19% dan kami tidak akan membayar apa pun. Kami akan
memiliki akses penuh ke Indonesia.
”
Kedengerannya unfair? Memang. Tapi sebelum kita nyinyir habis-habisan, mari kita lihat dampaknya ke industri yang lagi naik daun: industri drone Indonesia. Untuk memahami konteks industri drone lebih luas, baca tentang pengertian dan sejarah perkembangan drone serta berbagai jenis-jenis drone yang ada di pasaran. Karena ternyata, cerita ini nggak sesimpel yang keliatan.







