MIAMI, Minggu (25/10/2026) - Tim peneliti dari Florida International University (FIU) mengembangkan metode baru untuk mendeteksi drone menggunakan tanda medan magnetik unik yang dihasilkan oleh putaran motor listrik pesawat nirawak.
Metode yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah IEEE Sensors Journal tersebut menawarkan cara pemantauan yang lebih senyap, aman, dan murah dibandingkan penggunaan sistem radar konvensional. Sistem ini memanfaatkan medan magnetik frekuensi sangat rendah (extremely low frequency) yang keluar secara alami saat bilah penggerak berputar di udara.
Dengan merekam tanda magnetik tersebut memakai antena khusus dan mengolah datanya lewat model pembelajaran mesin (machine learning), para peneliti mampu mengidentifikasi drone di luar ruangan hingga tingkat akurasi 98,52 persen pada jarak jangkauan sampai 15 meter.
Sistem tersebut tidak hanya mendeteksi keberadaan unit di udara, tetapi juga mengenali tipe dan model spesifik drone berdasarkan konfigurasi kerja komponen motor drone yang digunakan.
Peneliti utama sekaligus Guru Besar di College of Engineering and Computing FIU Arjuna Madanayake menyampaikan, inovasi ini bekerja sepenuhnya secara pasif tanpa memancarkan sinyal radio balik ke lingkungan sekitar.
"Setiap metode deteksi yang digunakan saat ini selalu membocorkan sesuatu. Radar memancarkan sinyal. Sistem akustik kewalahan menghadapi kebisingan latar belakang. Kami mengambil arah yang sama sekali berbeda," kata Madanayake.
Ia menambahkan, biaya perakitan peranti ini hanya memerlukan beberapa ratus dollar AS. Alat tersebut juga dirancang untuk dapat beroperasi terus-menerus tanpa membutuhkan dukungan teknis khusus layaknya radar pertahanan.
Riset gabungan ini berfokus pada pemantauan sistem pesawat nirawak mikro (micro-unmanned aerial systems). Drone berukuran kecil ini kerap dipakai membawa bahan peledak atau melakukan pengintaian karena sulit tertangkap radar konvensional di kawasan konflik pada era drone dan perang modern.
"Mengetahui jenis drone yang datang sangat penting. Drone yang berbeda dapat membawa muatan yang berbeda dan memiliki profil ancaman yang berbeda pula. Semakin banyak informasi yang dapat diberikan kepada pihak bertahan tentang apa yang mendekat, semakin baik respons mereka," tutur Madanayake.
Kebutuhan teknologi penangkal drone kian mendesak seiring masifnya penggunaan drone kecil di medan pertempuran, yang selama ini kerap direspons menggunakan sistem pelumpuh sinyal seperti drone jammer. Departemen Perang Amerika Serikat bahkan telah mengajukan anggaran sebesar 74 miliar dollar AS untuk teknologi drone dan anti-drone pada anggaran fiskal 2027.
Penelitian ini dipimpin oleh Madanayake dari Departemen Teknik Elektro dan Komputer FIU bersama peneliti Dilshara Herath, peneliti Chatura Seneviratne yang berbasis di Sri Lanka, serta Soumyajit Mandal dari Brookhaven National Laboratory.
Saat ini tim peneliti dari FIU sedang bekerja sama dengan mitra industri di Amerika Serikat untuk mengembangkan teknologi deteksi pasif tersebut ke tahap lanjutan.