
NWSLogbook entry
Denel Aeronautics Luncurkan Drone VTOL Skyler di Pameran AAD 2026
Denel Aeronautics memperkenalkan drone intai VTOL Skyler untuk pertama kalinya ke publik dalam pameran AAD 2026 di Pretoria, Afrika Selatan.
Departures

NWSLogbook entry
Denel Aeronautics memperkenalkan drone intai VTOL Skyler untuk pertama kalinya ke publik dalam pameran AAD 2026 di Pretoria, Afrika Selatan.
Perusahaan kedirgantaraan asal Afrika Selatan, Denel Aeronautics, memperkenalkan pesawat tanpa awak terbarunya bernama Skyler ke publik untuk pertama kalinya dalam ajang Africa Aerospace and Defence (AAD) 2026 di Pretoria.
Peluncuran perdana pesawat tanpa awak tersebut berlangsung tidak lama setelah wahana diperlihatkan kepada Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa saat kunjungan pengawasan fasilitas Denel.
Skyler merupakan wahana berkemampuan lepas landas dan mendarat vertikal atau vertical takeoff and landing (VTOL) bersayap tetap yang sebelumnya dikenal dengan nama FW-VTOL UAV. Pesawat ini lepas landas vertikal memakai empat rotor kecil, lalu berpindah ke baling-baling dorong utama untuk terbang jelajah selama 150 menit dengan tingkat kebisingan rendah, sebelum mendarat vertikal kembali pada ketinggian terbang hingga 3.000 meter.
Divisional Executive Engineering and Continuing Airworthiness Denel Aeronautics Lindokuhle Mpanza menyatakan bahwa wahana tanpa awak ini sedang menjalani tahapan uji terbang dan kualifikasi pengembangan.
"Bagian pertama uji terbang adalah bukti terbang, bahwa pesawat benar-benar bisa terbang, laik udara, dan dapat dikendalikan. Tahap itu sudah selesai. Tahapan yang sedang kami kerjakan saat ini adalah perluasan amplop terbang (expansion of the envelope)," kata Mpanza.
Pihaknya menguji pesawat dalam berbagai mode penerbangan, mulai dari transisi terbang layang (hover), maju, hingga mundur. Pengujian ini memastikan performa wahana memenuhi kriteria desain dan batas keselamatan.
"Skyler adalah pemandu jarak dekat di garis depan. Jika ancaman ditemukan, Anda bisa mengirim Seeker, dan jika Seeker menemukan ancaman yang lebih besar, Anda mengirim Rooivalk," tutur Mpanza.
Ia menegaskan bahwa Skyler tidak dirancang untuk menggantikan drone intai taktis Seeker yang berdaya jelajah 250 kilometer dan mampu memuat rudal. Denel mengembangkan Skyler sebagai wahana pengintai yang mampu menandai sasaran sekaligus saling melengkapi dengan armada udara yang sudah beroperasi.
Untuk mendukung pengamatan visual, Skyler mengusung gimbal penstabil tiga sumbu seberat dua kilogram yang menopang kamera elektro-optik dengan perbesaran optik 30 kali dan perbesaran digital 12 kali. Perangkat pengintai ini memuat pemindai laser hingga jarak lima kilometer serta sensor termal inframerah untuk patroli siang dan malam, ditambah satu kamera pemantau di hidung pesawat.
Sistem pengenalan otomatis berbasis kecerdasan buatan (auto tracker) turut disematkan untuk mengenali dan melacak pergerakan kendaraan maupun individu di darat.
Wahana berkonfigurasi drone VTOL ini memiliki keunggulan berupa kebutuhan logistik yang sangat minim di medan operasi. Seluruh komponen pesawat dapat dibongkar dan disimpan ke dalam satu boks khusus yang dapat diangkat dua orang ke bak mobil pikap.
"Sistem ini datang dalam kotak mandiri yang bisa dibawa, ditaruh di belakang mobil pikap bersama unit kendali, lalu Anda bisa berkendara ke lokasi peluncuran," ucap Mpanza.
Skyler memakai paket baterai yang dapat ditukar secara cepat sehingga unit cadangan dapat langsung menggantikan unit yang mendarat untuk memastikan pengawasan tanpa jeda. Selain itu, Denel sedang meneliti penggunaan sel bahan bakar hidrogen buatan Council for Scientific and Industrial Research (CSIR) yang berpotensi memperpanjang waktu terbang hingga 10 jam.
Jika koneksi stasiun pengendali terputus, Skyler diprogram melakukan pendaratan darurat di titik lepas landas atau area aman yang telah ditentukan. Sistem pengiriman data taktis memanfaatkan platform FUSUS berbasis komputasi awan hasil kerja sama dengan Sparcx.
Selain kebutuhan militer, Skyler dapat dimanfaatkan untuk pengawasan perbatasan, pemantauan maritim, operasi pencarian dan pertolongan, mitigasi bencana, pemantauan satwa liar, hingga inspeksi dan survei infrastruktur.
Angkatan Pertahanan Nasional Afrika Selatan (SANDF) melalui Angkatan Udara Afrika Selatan (SAAF) dan Intelijen Pertahanan telah menyatakan minat untuk mengoperasikan unit ini. Denel telah merampungkan dua prototipe Skyler dan sedang menyiapkan prototipe ketiga sembari mematangkan analisis kebutuhan pelatihan pilot bersama militer.
You must be logged in to comment
No comments yet. Be the first to comment!

Written by
Liu PurnomoI'm a Software Engineer who turns coffee into code, and sometimes I even make interactive web things that work! ☕💻 I'm also a certified multitasker: an Expert Drone Pilot (ask me for aerial selfies!), a Certified Instructor/Public Speaker (I talk a lot), and a Seasonal Runner who believes in running only when the weather is perfect. Let's connect!
More articles headed the same way as this one.


Wahana ini dirancang khusus untuk misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian (intelligence, surveillance and reconnaissance/ISR) sebagai pengintai garis depan dengan jarak jelajah 25 hingga 50 kilometer. Kehadirannya melengkapi doktrin pertahanan dalam ekosistem drone dan perang modern yang berlapis.

