
NWSLogbook entry
Serangan Drone di Sudan Tewaskan Lebih dari 160 Orang
Gelombang serangan pesawat tanpa awak di berbagai wilayah Sudan menewaskan lebih dari 160 orang, menyasar fasilitas transportasi hingga permukiman warga.
Departures

NWSLogbook entry
Gelombang serangan pesawat tanpa awak di berbagai wilayah Sudan menewaskan lebih dari 160 orang, menyasar fasilitas transportasi hingga permukiman warga.
KHARTOUM, Senin (19/10/2026), gelombang serangan pesawat tanpa awak atau drone di berbagai wilayah Sudan menewaskan lebih dari 160 orang dalam beberapa hari terakhir. Serangan udara tersebut menyasar permukiman warga sipil hingga simpul transportasi umum di kawasan barat dan ibu kota Khartoum.
Kelompok pemantau kekerasan sipil Emergency Lawyers melaporkan, serangan drone di Khartoum pada Senin menewaskan tiga anak. Di kawasan barat Sudan, lebih dari 160 orang dilaporkan meninggal dunia akibat gempuran udara yang meningkat sejak Jumat (16/10/2026).
Insiden paling mematikan terjadi pada Minggu (18/10/2026) malam di dekat pasar Kota al-Dabba, Negara Bagian Kordofan Barat. Wilayah tersebut berada di bawah kendali pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Serangan drone menghantam pusat angkutan saat para warga berkumpul mencari tumpangan pulang usai hari pasar, menewaskan 80 orang seketika di lokasi. Sebanyak 47 korban luka dilarikan ke Kota al-Mujlad, tetapi 30 korban di antaranya kemudian meninggal dunia akibat luka parah.
Administrasi bentukan RSF, Tasis, bersama Emergency Lawyers menuduh militer pemerintah Sudan melancarkan serangan udara di al-Dabba tersebut.

Serangan udara juga menyasar infrastruktur strategis dan konsentrasi pengungsi di wilayah lain. Sumber militer menyebutkan sistem pertahanan udara berhasil mencegat beberapa drone RSF yang menargetkan Bendungan Atbara dan Setit di Negara Bagian Gadarif, sekitar 420 kilometer sebelah timur Khartoum, pada Minggu.
Pada Senin dini hari, serangan drone menghantam kubu RSF di Nyala, ibu kota Darfur Selatan. Sebanyak 17 orang meninggal dunia, termasuk tujuh perwira RSF, dan 23 orang lainnya mengalami luka-luka.
Sebelumnya pada Jumat, serangan drone milik RSF menghantam perkumpulan pengungsi di Provinsi Blue Nile, dekat perbatasan Ethiopia. Serangan tersebut merenggut 41 korban jiwa.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutuk keras eskalasi serangan udara yang terus memakan korban dari kalangan masyarakat umum tersebut.
"Kami sangat cemas atas berlanjutnya serangan drone mematikan di seluruh negeri yang menewaskan warga sipil, termasuk anak-anak, serta mengganggu layanan penting," kata Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Stephane Dujarric.
Konflik bersenjata Sudan meletus sejak April 2023 akibat perselisihan rencana integrasi RSF ke dalam tubuh militer antara Pemimpin Militer Abdel Fattah al-Burhan dan Komandan RSF Mohamed Hamdan Dagalo atau Hemedti. Pada Juni 2026, pengadilan menjatuhkan vonis mati secara in absentia kepada Hemedti atas tuduhan kejahatan perang.
Data pemantau konflik ACLED mencatat perang berkepanjangan ini telah menewaskan sedikitnya 59.000 orang. Sebanyak 13 juta orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka dan 33,7 juta jiwa memerlukan bantuan pangan mendesak tahun ini, termasuk 17,3 juta anak-anak.
Menanggapi eskalasi itu, Amerika Serikat mendesak Dewan Keamanan PBB memberlakukan jeda kemanusiaan dan memperluas embargo senjata ke Sudan. Namun, rencana perluasan sanksi senjata tersebut ditolak oleh China dan Rusia dalam pembahasan di markas PBB.
You must be logged in to comment
No comments yet. Be the first to comment!

Written by
Liu PurnomoI'm a Software Engineer who turns coffee into code, and sometimes I even make interactive web things that work! ☕💻 I'm also a certified multitasker: an Expert Drone Pilot (ask me for aerial selfies!), a Certified Instructor/Public Speaker (I talk a lot), and a Seasonal Runner who believes in running only when the weather is perfect. Let's connect!
More articles headed the same way as this one.
Peningkatan penggunaan pesawat tanpa awak memperlihatkan dinamika baru drone dan perang modern yang kini meluas di kawasan tersebut. Pertumbuhan alutsista nirawak selaras dengan tren pengadaan drone militer Afrika yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.