Tahun 1944. Perang Dunia II sedang berkecamuk. Di sebuah pabrik di California, ribuan wanita bekerja merakit pesawat tanpa awak untuk militer Amerika. Salah satu dari mereka adalah gadis berusia 18 tahun bernama Norma Jeane Dougherty.
Suatu hari, seorang fotografer militer datang untuk mendokumentasikan kontribusi pekerja wanita dalam industri perang. Kameranya berhenti pada Norma Jeane. Foto itu mengubah hidupnya - dan sejarah Hollywood selamanya.
Tapi cerita ini bukan tentang Marilyn Monroe.
Cerita ini tentang benda yang sedang dirakit gadis itu: Radioplane OQ-2 - drone pertama di dunia yang diproduksi secara massal.
Sebelum ada DJI , sebelum ada istilah "drone", ada seorang pria bernama Reginald Denny.
Denny bukan insinyur. Ia adalah aktor film bisu Hollywood yang populer di era 1920-an. Namun di balik karirnya yang glamor, Denny punya obsesi: pesawat model bertenaga radio.
Pada 1934, Denny membuka toko hobi bernama Reginald Denny Hobby Shops di Hollywood Boulevard. Di sana ia menjual pesawat model dan mulai bereksperimen dengan kendali radio - teknologi yang saat itu masih sangat primitif.
Denny percaya bahwa pesawat tanpa awak punya masa depan. Bukan sebagai mainan, tapi sebagai alat militer.
Ketika Perang Dunia II meletus, militer Amerika menghadapi masalah serius: bagaimana melatih penembak anti-pesawat tanpa mempertaruhkan nyawa pilot ?
Jawabannya datang dari toko hobi Reginald Denny.
Denny dan timnya mengembangkan pesawat tanpa awak yang bisa diterbangkan via remote control, lalu ditembak jatuh oleh penembak yang sedang berlatih. Konsepnya sederhana tapi revolusioner.
Pada 1939, Radioplane Company - perusahaan yang didirikan Denny - mempresentasikan prototipe mereka kepada Angkatan Darat AS. Militer tertarik.
Hasilnya adalah Radioplane OQ-2: drone target pertama yang diproduksi secara massal dalam sejarah penerbangan.
Untuk ukuran zamannya, OQ-2 adalah mesin yang mengesankan:
Drone ini diluncurkan menggunakan katapel dan dikendalikan dari darat menggunakan sinyal radio. Setelah sesi latihan selesai - atau jika tidak ditembak jatuh - OQ-2 akan mendarat menggunakan parasut untuk digunakan kembali.
Desainnya simpel, murah, dan bisa diproduksi dalam jumlah besar.
Antara tahun 1940 hingga 1945, Radioplane Company memproduksi lebih dari 15.000 unit OQ-2 dan variannya.
Angka ini menjadikan OQ-2 sebagai drone pertama yang diproduksi secara massal dalam sejarah dunia.
Untuk konteks: pada era yang sama, teknologi "canggih" seperti radar dan komputer analog masih sangat terbatas. Tapi di pabrik Radioplane di Van Nuys, California, drone sudah keluar dari jalur produksi seperti mobil di pabrik Ford.
Setiap unit OQ-2 berharga sekitar $600 - setara dengan sekitar $10.000 dalam nilai mata uang 2024. Jauh lebih murah dibanding pesawat sungguhan, dan yang terpenting: tidak ada pilot yang mati saat latihan.
Perang membutuhkan tenaga kerja. Dengan jutaan pria bertempur di luar negeri, wanita Amerika mengisi kekosongan di pabrik-pabrik. Salah satunya adalah Norma Jeane Dougherty, istri muda seorang pelaut yang sedang bertugas.
Norma Jeane bekerja di pabrik Radioplane. Tugasnya: memeriksa parasut dan menyemprotkan cairan pelindung pada badan pesawat. Pekerjaan yang membosankan, berdebu, dan berbau bahan kimia.
Pada Juni 1945, fotografer militer David Conover datang ke pabrik. Ia ditugaskan untuk mengambil foto propaganda - menunjukkan wanita Amerika yang mendukung upaya perang.
Conover melihat Norma Jeane dan langsung terpukau. Bukan karena ia sedang mencari bintang film, tapi karena gadis itu fotogenik secara luar biasa.
"Kamu seharusnya jadi model," kata Conover.
Foto-foto itu dikirim ke majalah Yank dan Stars and Stripes. Norma Jeane mulai dikenal. Ia kemudian berganti nama, mengecat rambutnya menjadi pirang, dan menandatangani kontrak dengan studio film.
Norma Jeane Dougherty menjadi Marilyn Monroe.
Dan semuanya dimulai di pabrik drone.
Ada ironi yang menarik dalam kisah ini.
Radioplane OQ-2 dirancang untuk tidak dilihat. Fungsinya adalah menjadi target - ditembak, dihancurkan, dilupakan. Sebuah alat sekali pakai dalam mesin perang.
Tapi di pabrik yang sama, seorang gadis yang "tidak terlihat" - pekerja pabrik biasa di antara ribuan lainnya - justru ditemukan dan menjadi salah satu wajah paling ikonik abad ke-20.
Drone itu membawa kematian simbolis (sebagai target latihan). Tapi dari pabriknya lahir salah satu simbol kecantikan dan pesona paling abadi dalam sejarah budaya populer.
Radioplane OQ-2 mungkin bukan drone dalam pengertian modern. Ia tidak punya kamera. Tidak bisa hover. Tidak dikendalikan via smartphone.
Tapi OQ-2 membuktikan sesuatu yang fundamental: pesawat tanpa awak bisa diproduksi massal dan punya nilai strategis.
Pelajaran ini tidak hilang.
Setelah Perang Dunia II, militer di seluruh dunia terus mengembangkan drone. Target drone berkembang menjadi drone pengintai. Drone pengintai berkembang menjadi drone bersenjata. Dan akhirnya, teknologi itu turun ke konsumen.
Garis lurus bisa ditarik dari Radioplane OQ-2 di tahun 1940-an hingga DJI Mavic yang mungkin ada di tas Anda hari ini.
Reginald Denny - aktor Hollywood yang terobsesi dengan pesawat model - adalah kakek buyut dari industri drone bernilai miliaran dolar.
Radioplane OQ-2 adalah bukti bahwa inovasi sering datang dari tempat tak terduga.
Sebuah aktor film bisu bermimpi tentang pesawat tanpa awak. Mimpinya menjadi kenyataan di tengah perang paling brutal dalam sejarah manusia. Dan di pabrik tempat mimpi itu diproduksi, seorang gadis biasa ditemukan dan menjadi legenda.
Drone, perang, dan Hollywood - terhubung dalam satu cerita yang aneh dan indah.
Lain kali Anda melihat drone terbang, ingatlah: teknologi itu punya sejarah. Dan sejarah itu dimulai dengan seorang aktor, sebuah toko hobi, dan gadis bernama Norma Jeane yang bekerja di jalur produksi.