TEHERAN, Minggu (25/10/2026) - Militer Iran memamerkan fasilitas produksi bawah tanah pesawat nirawak serang Arash dan menembak jatuh drone Amerika Serikat di Bandar Abbas saat tensi militer kedua negara meningkat.
Kantor berita Tasnim melaporkan pada Minggu (25/10/2026) bahwa pesawat tanpa awak yang dijatuhkan di Bandar Abbas merupakan drone jenis LUCAS buatan Amerika Serikat. Insiden penembakan jatuh tersebut berlangsung ketika hubungan kedua pihak kembali berada di ambang konfrontasi terbuka.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington membuka kemungkinan untuk melancarkan serangan terhadap Teheran atau mengambil opsi kesepakatan. Trump menyampaikan pernyataan tersebut kepada awak media di Washington pada Sabtu (24/10/2026).
"Kami sedang mempertimbangkan untuk melakukannya, mungkin besok," kata Trump saat ditanya mengenai kemungkinan serangan terhadap sasaran di Iran.
Trump menolak memberikan jadwal pasti tindakan militer negaranya. Pesawat tempur dari gugus tempur kapal induk USS George Washington dilaporkan The Wall Street Journal telah disiagakan untuk mengantisipasi perintah operasi.
Menghadapi potensi ancaman, militer Iran memperlihatkan fasilitas produksi bawah tanah untuk drone serang satu arah Arash. Video resmi yang dirilis memperlihatkan puluhan unit pesawat nirawak berjejer di dalam terowongan bawah tanah saat ditinjau petinggi militer.
Pengembangan teknologi tanpa awak ini menjadi bagian dari adaptasi kekuatan Teheran dalam menghadapi konfrontasi regional, sebagaimana diulas dalam dinamika kapabilitas drone Iran di Inggris dan penarikan B-1B.
Panglima Angkatan Darat Republik Islam Iran Mayor Jenderal Amir Hatami meninjau langsung kesiapan lini produksi tersebut. Hatami menyebut industri nirawak Iran telah bertransformasi dari riset kementerian menjadi kolaborasi industri nasional bersama universitas dan perusahaan berbasis teknologi.
"Kami dapat mengatakan bahwa kami telah mencapai tingkat kematangan yang baik dalam bidang drone dan sistem nirawak secara umum," ujar Hatami.
Menurut laporan Pars Today pada Sabtu (24/10/2026), varian terbaru Arash membawa peningkatan hulu ledak dari 50 kilogram menjadi 100 kilogram. Drone ini disiapkan untuk menghantam sasaran bernilai tinggi seperti hanggar pesawat, tangki bahan bakar, dan bangunan pangkalan musuh.
Model Arash terdahulu memiliki daya jangkau operasional hingga 2.000 kilometer dengan peluncur bergerak berbentuk kontainer. Peningkatan sistem navigasi terbaru diklaim memadukan kecerdasan buatan, sensor termal, dan optik agar tetap presisi meski menghadapi gangguan sinyal satelit.
Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata sekaligus Komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya Mayor Jenderal Ali Abdollahi menegaskan bahwa evaluasi konflik sebelumnya menjadi dasar penguatan pertahanan. Abdollahi meninjau fasilitas drone bersama Hatami untuk memastikan kesiapan respons tempur.
Abdollahi menyatakan angkatan bersenjata Iran siap memberikan balasan yang lebih tegas jika kedaulatan negara dilanggar. Ia menekankan bahwa peralatan berbiaya murah seperti drone dapat mengimbangi persenjataan lawan yang bernilai jauh lebih mahal.
Hatami mengakui sebagian fasilitas militernya sempat terdampak pada pertempuran terdahulu. Namun, Angkatan Darat Iran kini mengonsentrasikan kekuatan pada skenario perang asimetris untuk membalas kekuatan konvensional lawan.
"Musuh tidak memahami bahasa selain bahasa paksaan dan kekuatan. Setiap bentuk kelonggaran dianggap sebagai kemunduran, lalu mereka melangkah maju satu langkah," tutur Hatami.
Selain kesiapan drone darat, Hatami menyoroti operasi Angkatan Laut Angkatan Darat Iran di pesisir timur Selat Hormuz dan perairan Laut Oman. Militer Iran terus mengawasi pergerakan kapal perang asing yang melintasi koridor perdagangan energi tersebut.
Potensi ancaman terhadap jalur pelayaran energi ini mengulang ketegangan sebelumnya saat Iran tembak jatuh drone MQ-9 AS dan ancam kabel internet Hormuz di perairan yang sama.
Hatami memperingatkan kapal musuh yang memasuki zona pengawasan dapat dijadikan sasaran tembak. Jalur laut di kawasan tersebut kini dipantau menggunakan ranjau laut dan sistem kendali otomatis jarak jauh.
Militer Iran belum mengumumkan lokasi pasti maupun kapasitas produksi fasilitas bawah tanah yang baru diresmikan tersebut. Di sisi lain, Gedung Putih belum menetapkan tenggat atau keputusan akhir terkait rencana pengerahan serangan militer ke Teheran.