
DRNLogbook entry· 4 min read
Drone Bukan Fotografi?
Benarkan drone bukan fotografi? Artikel ini mengupas tuntas peran drone dalam fotografi dan videografi, serta bagaimana teknologi ini merevolusi cara kita menangkap momen.
4 min read
Departures

DRNLogbook entry· 4 min read
Benarkan drone bukan fotografi? Artikel ini mengupas tuntas peran drone dalam fotografi dan videografi, serta bagaimana teknologi ini merevolusi cara kita menangkap momen.
Beberapa waktu lalu, saya mendengar pernyataan yang cukup menggelitik: "Drone bukan fotografi." Pernyataan ini terasa seperti mengatakan "kamera bukan fotografi" atau "pena bukan menulis."
Sebagai orang yang lumayan sering make drone, pernyataan seperti itu bikin kening berkerut dan hati pengen nyinyir… tapi mari kita bahas dengan santai dan berbasis data. Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya kita memahami pengertian dan sejarah perkembangan drone terlebih dahulu, serta berbagai jenis-jenis drone yang digunakan untuk fotografi dan videografi.
Karena kalau kita mau jujur dan sedikit baca, pernyataan itu nggak cuma salah, tapi menyesatkan.
Fotografi itu bukan tentang di mana tubuhmu berada, tapi tentang bagaimana kamu menangkap cahaya dan menyusun cerita visual. Apakah itu dari belakang viewfinder, dari layar monitor, atau dari feed live kamera drone, itu tetap bentuk “pengalaman visual”.
Dalam drone, kamu tetap berada di balik kamera. Hanya saja kamera kamu terbang 100 meter di atas. Perspektif berubah, tapi proses kreatif tetap berjalan. Dan ya, kamu tetap bisa merasakan momen, hanya saja dengan sensor dan layar.
Dalam bukunya, Drone Photography: Art and Techniques, Jake Sugden langsung membuka dengan fakta menarik: drone sudah mengubah cara kita memotret. Ia menyebut bahwa “aerial photography, which has been around for decades, is very much in its infancy” berkat drone (hlm. 2) . Artinya, drone justru membuka gerbang baru dalam dunia fotografi — dari hobi jadi profesi, dari darat ke langit.
Sugden melanjutkan bahwa dengan drone, kamera dan operator bisa terpisah secara fisik, namun tetap terhubung secara kreatif. Kita memotret bukan lagi dengan berdiri dan membidik, tapi dengan terbang dan merancang perspektif — itu tetap esensi fotografi.
Coba pikir logikanya. Kalau kita bilang drone bukan fotografi, maka kita juga harus bilang DSLR, kamera ponsel, dan kamera film juga “bukan fotografi”. Padahal semua itu hanyalah media — alat bantu. Fotografi adalah proses kreatif menangkap cahaya dan menyusun komposisi visual. Apakah kita melakukannya dengan tangan, tripod, atau rotor baling-baling tidak mengubah substansinya.
Seperti yang disebut Sugden, “At the end of the day, it is the person behind the camera that gets the great shot — not the equipment.” (hlm. 9)
Drone hari ini bukan cuma alat buat motret pemandangan cakep buat Instagram. Dalam Drone Technology: Future Trends and Practical Applications, drone photography disebut sebagai salah satu dari “Top 10 Stunning Applications” dari teknologi drone (hlm. 40).
Lebih dari sekadar estetika, drone photography telah menjadi bagian dari:
Artinya, ini bukan sekadar alat mainan, tapi medium ekspresi visual. Dan ya, itu fotografi.
Sugden menyebut bahwa kehadiran drone telah “suddenly put highly sophisticated, very affordable cameras on ‘easy to fly’ aircraft within the reach of budding photographers.” (hlm. 1) . Ini bukan cuma perubahan alat, tapi lompatan paradigma. Seorang fotografer kini tak perlu charter helikopter demi mengambil satu frame. Cukup bawa drone, atur komposisi, dan... klik.
Drone telah memperluas akses terhadap sudut pandang baru, dan seperti dalam semua revolusi media — ini tetap disebut fotografi, hanya saja dalam bentuk terbang.
Adam Rothstein dalam bukunya Drone bahkan menyebutkan bahwa drone memiliki peran dalam “esthetics” dan membentuk cara pandang visual kita terhadap dunia (hlm. xiii) . Ketika kamu melihat deretan rumah dari atas atau pola sawah yang simetris, kamu tidak sekadar melihat data — kamu sedang menikmati sebuah komposisi. Itu adalah pengalaman visual. Itu adalah… fotografi.
Kenapa ada yang masih bilang “Drone bukan fotografi”? Bisa jadi karena belum terbiasa. Bisa juga karena menganggap drone hanya sebagai alat teknologi atau alat kerja, bukan alat seni. Tapi kenyataannya, seperti kamera ponsel yang dulu dianggap mainan kini jadi alat kerja fotografer profesional, drone juga mengalami evolusi serupa.
Fotografi adalah tentang cahaya, sudut pandang, dan cerita. Dan drone? Ia membawa kita ke sudut-sudut pandang yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Maka mengatakan bahwa drone bukan fotografi bukan hanya keliru, itu seperti menolak realitas zaman.
Kalau kamera adalah kuas, maka drone adalah kuas yang bisa terbang. Dan bagi saya, tak ada yang lebih fotografis dari itu.
You must be logged in to comment
No comments yet. Be the first to comment!

Written by
Liu PurnomoI'm a Software Engineer who turns coffee into code, and sometimes I even make interactive web things that work! ☕💻 I'm also a certified multitasker: an Expert Drone Pilot (ask me for aerial selfies!), a Certified Instructor/Public Speaker (I talk a lot), and a Seasonal Runner who believes in running only when the weather is perfect. Let's connect!
More articles headed the same way as this one.

“— Jake Sugden
It is the person behind the camera that gets the great shot — not the
equipment.
”

“— Jake Sugden
Aerial photography, which has been around for decades, is very much in its
infancy thanks to the introduction of drones.
”

“— Jake Sugden
Drones have suddenly put highly sophisticated, very affordable cameras on
‘easy to fly’ aircraft within the reach of budding photographers.
”