TOKYO, Selasa (3/11/2026) - Fujitsu Limited mempercepat penerapan logistik generasi baru dengan mengintegrasikan temuan riset penerimaan sosial pengiriman drone ke dalam model bisnis Fujitsu Uvance, khususnya pada area Dynamic Supply Chain Management.
Langkah ini menggabungkan wawasan penerimaan masyarakat dengan data arus perdagangan dan logistik. Fujitsu memanfaatkan analisis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan simulasi untuk merancang layanan pengiriman wilayah yang mengoptimalkan kombinasi truk, pesawat nirawak, dan robot pengantar otonom.
Inisiatif tersebut memanfaatkan hasil riset bersama antara Fujitsu, peneliti dari Kyushu University, Sungkyunkwan University, dan sejumlah institusi lain. Hasil kajian itu terbit secara daring di jurnal internasional Transportation Research Part E: Logistics and Transportation Review pada 29 Juli 2026 serta masuk dalam Volume 215 jurnal tersebut pada November 2026.
Riset tersebut menyurvei 5.113 orang di seluruh Jepang guna menganalisis faktor penentu penerimaan publik terhadap mobilitas udara perkotaan (urban air mobility) untuk pengiriman jarak terakhir (last-mile delivery). Penerimaan masyarakat terhadap teknologi pengiriman drone tidak hanya dipengaruhi oleh aspek fungsional seperti kecepatan dan biaya.
Kajian tersebut menemukan bahwa kepercayaan terhadap sistem pendukung serta empati terhadap nilai sosial, seperti penyelesaian masalah tenaga kerja dan kontribusi bagi komunitas daerah, memiliki pengaruh signifikan. Hasil survei memetakan dua kelompok penerimaan warga. Kelompok pertama merespons faktor fungsional seperti waktu tunggu pengiriman dan jenis operator, sedangkan kelompok kedua mengutamakan kepercayaan pada sistem serta aksesibilitas universal layanan logistik bagi warga lanjut usia dan kawasan terpencil.
Latar belakang inisiatif ini didorong oleh lonjakan pasar niaga elektronik dan masalah logistik 2024 di Jepang yang memicu kelangkaan tenaga kerja dan keterbatasan kapasitas angkut. Wilayah pegunungan menghadapi kendala mempertahankan jaringan distribusi akibat penyusutan populasi, sementara kawasan perkotaan menuntut kecepatan dan efisiensi biaya. Inovasi drone kargo dinilai menjadi solusi, tetapi perbaikan teknis semata tidak cukup tanpa penerimaan sosial.
Fujitsu memadukan temuan tersebut dengan data operasional seperti permintaan pengiriman, kapasitas transportasi, dan waktu tunggu. Melalui kolaborasi dengan mitra industri, operator logistik, dan pemerintah daerah, perusahaan merancang mekanisme untuk menghubungkan sistem manajemen pergudangan (WMS) dan sistem manajemen transportasi (TMS) dengan robotika otonom.
Pengembangan platform ini turut memanfaatkan Fujitsu-Carnegie Mellon Physical AI Research Center yang didirikan pada April 2026. Fasilitas tersebut mengembangkan Fujitsu Kozuchi Physical OS, yaitu platform yang mengintegrasikan robotika, sensor, sistem komputasi, dan data spasial untuk mendukung ekosistem urban air mobility.
Ke depan, Fujitsu berencana menggunakan temuan riset untuk merancang strategi komunikasi lintas kelompok usia, menyusun rekomendasi kebijakan terkait sertifikasi keselamatan, dan memperluas ekosistem rantai pasok terpadu.