Perusahaan pertahanan Inggris, BAE Systems, resmi memperkenalkan senjata gelombang mikro berdaya tinggi untuk melumpuhkan kawanan pesawat tanpa awak tanpa menggunakan rudal anti-pesawat.
Peralatan bernama high power microwave (HPM) tersebut beroperasi dengan menembakkan pulsa energi berkecepatan cahaya. Pulsa energi ini memicu lonjakan arus dan tegangan secara mendadak di dalam sirkuit mikro, sehingga langsung membakar atau mematikan sistem kendali elektronik pesawat tanpa awak (unmanned aerial vehicle/UAV).
Kehadiran sistem ini ditujukan untuk memangkas pengeluaran logistik militer. Penggunaan rudal konvensional dinilai terlalu mahal dan cepat menipis ketika harus meladeni taktik serangan kawanan drone berbiaya rendah dalam dinamika drone dan perang modern.
Wakil Presiden BAE Systems Jason Casciotti menyampaikan kesiapan operasional perangkat baru tersebut. "Sistem mempertahankan kesiapan tempur berkelanjutan selama pasokan daya tetap beroperasi," kata Casciotti.
Pihak perusahaan belum membeberkan rincian daya keluaran maupun jarak jangkau maksimum peralatan itu. BAE Systems hanya memastikan kesiapan sistem bertumpu pada suplai daya yang terhubung.
Mantan Wakil Komandan Angkatan Udara Australia Neil Hart menjelaskan bahwa sistem HPM biasanya bekerja pada frekuensi radio tertentu. Menurut Hart, jangkauan pertahanan efektif perangkat gelombang mikro umumnya mencakup jarak beberapa ratus meter hingga beberapa ribu meter.
Sistem HPM buatan BAE Systems kini mencapai Tingkat Kesiapan Teknologi 6 (TRL 6) pada skala standar sembilan tingkat industri militer. Capaian ini menunjukkan perangkat telah teruji bekerja secara efektif di lingkungan operasi lapangan nyata.
Dalam serangkaian uji coba, perangkat tersebut melepaskan miliaran pulsa gelombang mikro serta berhasil melumpuhkan target terbang secara akurat. Sekitar 99 persen komponen HPM merupakan produk komersial siap pakai (commercial off-the-shelf/COTS), sehingga menekan biaya produksi massal dan menyederhanakan perawatan berkala, berbeda dari sistem jamming elektronik pada drone jammer konvensional.
Berkat rancang bangun modular, perangkat ini dapat dioperasikan dalam empat konfigurasi tempur:
Sistem gelombang mikro dan senjata laser sama-sama tergolong dalam senjata energi terarah (directed energy weapon/DEW). Meski demikian, kedua teknologi tersebut memiliki peran taktis yang berbeda di medan tempur.
Laser menggunakan berkas sempit untuk membakar permukaan fisik satu target dan rentan terhalang cuaca buruk seperti hujan, kabut, atau debu. Sebaliknya, HPM memancarkan gelombang berbentuk kerucut lebar dalam hitungan nanodetik yang mampu menembus partikel cuaca sekaligus menyapu banyak drone kecil dalam satu pancaran.
Kendati unggul melawan kawanan drone, Hart mengingatkan bahwa teknologi ini berisiko memengaruhi peralatan elektronik milik pasukan kawan jika tidak diperhitungkan dengan cermat. HPM dinilai paling optimal apabila difungsikan sebagai lapisan pelengkap di samping artileri pertahanan udara dan rudal pencegat.