VASAD, Senin (12/10/2026). Perusahaan teknologi SPH Engineering menggelar SPH Drone Camp 2026 di Nádas Tó Park Hotel di Vasad, dekat Budapest, Hongaria. Acara dua hari tersebut mempertemukan para insinyur, peneliti, dan operator survei komersial untuk mendalami integrasi alur kerja pemetaan wahana tanpa awak serta pengumpulan data geofisika.
Kegiatan ini menggabungkan demonstrasi lapangan, lokakarya teknis, dan diskusi praktis seputar pemanfaatan sistem pesawat tanpa awak untuk inspeksi dan survei geospasial. Para peserta mempelajari alur kerja lengkap yang mencakup perencanaan misi penerbangan, integrasi sensor pada wahana, hingga pengolahan dan interpretasi data akhir.
Alih-alih memamerkan produk sensor atau perangkat lunak secara terpisah, demonstrasi diarahkan pada penerapan teknologi terpadu. Rangkaian peragaan tersebut melibatkan perangkat lunak kendali terbang UgCS, teknologi integrasi sensor SkyHub, perangkat lunak geofisika GeoHammer, sistem manajemen DroneGIS, radar penembus tanah atau ground penetrating radar (GPR), magnetometer, dan sistem survei batimetri.
Penerapan radar penembus tanah pada drone menjadi salah satu materi utama yang dibahas mendalam. Spesialis GPR sekaligus salah satu pendiri Geolitix, Jan Francke, memaparkan kriteria kelayakan proyek dan metode yang dibutuhkan untuk memperoleh data bawah permukaan yang akurat dari udara.
Pakar geofisika dari CE&E, Becky Bodger, melengkapi sesi teknis tersebut dengan pembahasan pengolahan serta interpretasi data geofisika. Bodger menguraikan potensi pembacaan pengukuran, batas ketidakpastian data, dan pemanfaatan hasil survei dalam pengambilan keputusan operasional di lapangan.
Chief Executive Officer (CEO) SPH Engineering Alexey Dobrovolskiy mempresentasikan pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) untuk pengolahan data geofisika melalui GeoHammer. Sistem ini memakai instruksi bahasa alami agar tenaga ahli dapat menguji metode pemrosesan tanpa harus menguasai keahlian pemrograman tingkat lanjut.
"AI dapat membantu kita mengeksplorasi metode pemrosesan yang mungkin tidak akan kita coba. Namun kita perlu memahami apa yang dilakukan metode tersebut terhadap data, bukan sekadar menerima hasil yang tampak meyakinkan," kata Dobrovolskiy.
Praktik integrasi sensor ini mempertegas pentingnya pertimbangan teknis dalam pemetaan menggunakan drone modern. Ketepatan dalam pemilihan muatan sensor dan perencanaan terbang menjadi faktor penentu agar data yang dikumpulkan memiliki nilai analisis tinggi, serupa dengan pedoman cara memilih drone untuk pemetaan di berbagai sektor industri.
Pada perhelatan yang sama, SPH Engineering mengumumkan pemenang edisi perdana ajang Global Drone Operations Awards. Penghargaan ini diberikan kepada proyek-proyek yang dinilai berhasil menerapkan teknologi drone secara nyata pada berbagai sektor industri.
Penerima penghargaan tersebut meliputi:
- AB Surveying Solutions untuk kategori operasi pertambangan
- Medusa Geoservices untuk kategori konstruksi dan intelijen lokasi
- San Diego Zoo Wildlife Alliance untuk kategori akademisi dan riset
- Embry-Riddle Aeronautical University untuk penghargaan khusus dewan juri
Melalui sesi diskusi kelompok kecil, para peserta saling bertukar pengalaman terkait kendala operasional lapangan, pemilihan perangkat keras, serta kebutuhan kalibrasi sensor. Masukan teknis dari para operator lapangan ini akan menjadi rujukan bagi SPH Engineering untuk menyempurnakan fitur sistem otomasi terbang dan perangkat lunak pengolahan data pada masa mendatang.